SketsaNusantara.id - Masjid Agung Demak bukan sekadar bangunan ibadah tertua di Jawa. Masjid ini menjadi penanda lahirnya peradaban Islam kerajaan. Jejaknya masih terlihat hingga hari ini.
Di balik pendiriannya, peranan Sunan Kalijaga menempati posisi penting. Ia terlibat langsung dalam perumusan konsep masjid. Perannya mencakup aspek simbolik, arsitektural, hingga penentuan arah kiblat.
Masjid Agung Demak memiliki ciri khas yang berbeda dari masjid lain. Unsur budaya lokal berpadu dengan nilai Islam. Pola ini kemudian diikuti masjid-masjid besar setelahnya.
Baca Juga: Siapa Memberi Nama Sunan Kalijaga? Ada 3 Versi yang Dipercaya Masyarakat Jawa hingga Kini
Pembangunan Masjid Agung Demak dilakukan oleh para wali. Musyawarah dipimpin Sunan Giri. Anggotanya terdiri dari Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Gunung Djati, dan Sunan Kalijaga. Raden Patah hadir sebagai penguasa Demak.
Tahap awal pembangunan difokuskan pada penentuan arah kiblat. Dalam musyawarah tersebut muncul perbedaan pandangan. Para wali belum mencapai kesepakatan bersama.
Dilansir dari buku Sunan Kalijaga & Mitos Masjid Agung Demak, Sunan Kalijaga kemudian mengajukan pandangan yang diterima bersama. Ia berdiri menghadap selatan.
Tangan kanan diangkat sebagai simbol Kakbah. Tangan kiri memegang mustoko masjid. Kedua arah itu dipertemukan sebagai penentu kiblat. Garis antara tangan kanan dan tangan kiri inilah yang disepakati oleh para wali sebagai arah kiblat Masjid Agung Demak.
Penentuan arah kiblat dilakukan pada hari Jumat bulan Dzulqa’dah. Proses itu terjadi menjelang salat Jumat.
Keterangan ini tercatat dalam berbagai babad Jawa. Arah kiblat disepakati sebelum waktu ibadah dimulai.
Masjid Agung Demak kemudian menjadi rujukan masjid kerajaan lain. Tata letak dan arah kiblatnya ditiru di berbagai daerah. Masjid Agung Cirebon, Banten, Surakarta, dan Yogyakarta mengikuti pola serupa.
Menurut catatan sejarah, Masjid Agung Demak memiliki makna simbolik penting. Masjid Agung Demak merupakan lambang kerajaan Islam pertama yang menghubungkan dengan wali-wali di Jawa. Keberadaannya menjadi satu-satunya peninggalan utama Kerajaan Demak.
Penentuan arah kiblat oleh Sunan Kalijaga dilakukan tanpa alat modern. Hasilnya, jika dibandingkan teknologi sekarang, hanya meleset sekitar 12 derajat. Proses ini dipahami sebagai bentuk ijtihad keilmuan pada masanya.
Artikel Terkait
Sejarah Lebaran Ketupat yang Gak Asing Lagi Jadi Rangkaian Idul Fitri, Ternyata Tradisi Ini Dikenalkan oleh Sunan Kalijaga, Apa Tujuannya?
Polemik Ridwan Kamil dan Lisa Mariana Bikin Redup? Sunan Kalijaga Ungkap Status dr Oky Pratama dalam Kasus Sindikat Skincare
Bukan Sunan Bonang apalagi Sunan Kalijaga, Tembang Tombo Ati Ternyata Punya Asal-usul yang Lebih Baheula
Pangeran Diponegoro Pernah Ketemu Sunan Kalijaga? Ada Ramalan Mencengangkan yang Diucapkan Anggota Wali Songo
5 Fakta Dakwah Islam Sunan Kalijaga yang Ternyata Sangat Cerdik dan Tanpa Kekerasan