Kamis, 4 Juni 2026

Peran Sunan Kalijaga di Masjid Agung Demak, Kisah Penentuan Arah Kiblat, dan Warisan Arsitektur Islam Jawa

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Senin, 19 Januari 2026 | 06:00 WIB
Masjid Agung Demak peninggalan Raden Patah. (museumpendidikannasional.upi.edu)
Masjid Agung Demak peninggalan Raden Patah. (museumpendidikannasional.upi.edu)

SketsaNusantara.id - Masjid Agung Demak bukan sekadar bangunan ibadah tertua di Jawa. Masjid ini menjadi penanda lahirnya peradaban Islam kerajaan. Jejaknya masih terlihat hingga hari ini.

Di balik pendiriannya, peranan Sunan Kalijaga menempati posisi penting. Ia terlibat langsung dalam perumusan konsep masjid. Perannya mencakup aspek simbolik, arsitektural, hingga penentuan arah kiblat.

Masjid Agung Demak memiliki ciri khas yang berbeda dari masjid lain. Unsur budaya lokal berpadu dengan nilai Islam. Pola ini kemudian diikuti masjid-masjid besar setelahnya.

Baca Juga: Siapa Memberi Nama Sunan Kalijaga? Ada 3 Versi yang Dipercaya Masyarakat Jawa hingga Kini

Pembangunan Masjid Agung Demak dilakukan oleh para wali. Musyawarah dipimpin Sunan Giri. Anggotanya terdiri dari Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Gunung Djati, dan Sunan Kalijaga. Raden Patah hadir sebagai penguasa Demak.

Tahap awal pembangunan difokuskan pada penentuan arah kiblat. Dalam musyawarah tersebut muncul perbedaan pandangan. Para wali belum mencapai kesepakatan bersama.

Dilansir dari buku Sunan Kalijaga & Mitos Masjid Agung Demak, Sunan Kalijaga kemudian mengajukan pandangan yang diterima bersama. Ia berdiri menghadap selatan.

Baca Juga: Benarkah Sunan Kalijaga Keturunan Cina? Inilah 3 Versi Asal-usulnya yang Jarang Dibahas, dari Keturunan Jawa, Arab, hingga Tiongkok dalam Sejarah Wali

Tangan kanan diangkat sebagai simbol Kakbah. Tangan kiri memegang mustoko masjid. Kedua arah itu dipertemukan sebagai penentu kiblat. Garis antara tangan kanan dan tangan kiri inilah yang disepakati oleh para wali sebagai arah kiblat Masjid Agung Demak.

Penentuan arah kiblat dilakukan pada hari Jumat bulan Dzulqa’dah. Proses itu terjadi menjelang salat Jumat.

Keterangan ini tercatat dalam berbagai babad Jawa. Arah kiblat disepakati sebelum waktu ibadah dimulai.

Masjid Agung Demak kemudian menjadi rujukan masjid kerajaan lain. Tata letak dan arah kiblatnya ditiru di berbagai daerah. Masjid Agung Cirebon, Banten, Surakarta, dan Yogyakarta mengikuti pola serupa.

Menurut catatan sejarah, Masjid Agung Demak memiliki makna simbolik penting. Masjid Agung Demak merupakan lambang kerajaan Islam pertama yang menghubungkan dengan wali-wali di Jawa. Keberadaannya menjadi satu-satunya peninggalan utama Kerajaan Demak.

Penentuan arah kiblat oleh Sunan Kalijaga dilakukan tanpa alat modern. Hasilnya, jika dibandingkan teknologi sekarang, hanya meleset sekitar 12 derajat. Proses ini dipahami sebagai bentuk ijtihad keilmuan pada masanya.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: Sunan Kalijaga dan Mitos Masjid Agung Demak, Dr. Fairuz Sabi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X