Lihatlah, betapa hidup dipenuhi gejolak dan gemuruh pemikiran, semua argumentasi dilepaskan dengan percaya itulah kebenaran. Manusia dengan pikiran seadanya pasti akan langsung taslim ketika mendengar pendapatnya, langsung pusing ketika diskusi dengan lawan bicaranya.
Dan nahasnya, mereka berkomentar sekenanya, memposting semua isi kepalanya hingga merusak arus jalannya pikiran dunia lewat sosial media. Zaman di mana manusia lebih percaya dengan influencer daripada pakar yang membidanginya.
Padahal, mereka hanya avatar digital yang bercengkerama dalam realitas maya, mayoritas justru menghindari keterlibatan nyata yang membutuhkan keberanian lebih dari sekedar tameng komentar-komentar sarkastik.
Lalu, siapa ‘jagoan’ sebenarnya? Boleh jadi, jagoan lebih tepat jika dimaknai sebagai seseorang yang mampu melengkapi kelemahan masyarakat pada zamannya.
Jika pada zaman-zaman itu otot yang diagungkan hingga dipertontonkan, tak heran seseorang disebut jagoan jika dia pandai berkelahi atau berperang. Tetapi, pada zaman di mana tsunami informasi datang silih berganti setiap harinya, boleh jadi ‘jagoan’ sebenarnya adalah anak muda dengan ketangguhan pikiran dan jiwanya.
Mengapa anak muda?
Di dalam kitab suci Al Quran sudah disebutkan. Isi surat Ar Rum itu mengatakan yang artinya; Allah adalah Zat yang menciptakanmu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan(-mu) kuat setelah keadaan lemah. Lalu, Dia menjadikan(-mu) lemah (kembali) setelah keadaan kuat dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (QS. ar-Rum [30]: 54)
Penjelasan nomor 1 dalam dalam surat tersebut adalah, kata lemah yang pertama berarti masa ketika masih berupa nutfah. Kata lemah yang kedua berarti masa kanak-kanak. Adapun kata kuat berarti masa muda.
Tanpa menafikan kehebatan serta pengalaman para orang tua, tetapi di pundak anak mudalah pemeran ‘jagoan’ lebih layak disandarkan. Bukan berarti menendang jasa-jasa orang tua, justru pengajaran dan bimbingan mereka sangat dibutuhkan demi pengkaderan jagoan-jagoan masa sekarang. Masa di mana objek serangan musuh bukanlah para pimpinan jenderal, tetapi rakyat sipil calon penerus bangsa.
Penyerangan bukan dengan senjata yang terang-benderang melanggar HAM, tetapi melalui informasi-informasi sesat berdalih kebenaran, hingga melalui subliminal massage yang korban serangannya merasa dirinya baik-baik saja. Tanpa keluasan pikiran dan jiwa yang tenang, tidak akan ada yang bisa mendeteksi serangannya.
Tetapi mau bagaimana lagi, anak muda yang dibela mati-matian oleh Al Qur’an, justru kerjanya hanya rebahan. Ketika dididik, dibilangnya pemaksaan. Belum ngapa-ngapain, malah pingin self reward.
Memang sebenarnya lebih nikmat kalau menyeruput kopi sambil menertawakan kontradiksi ini. Walaupun kopi juga hasil eksploitasi, tapi biarkanlah. Panggung sandiwara memang begitu, tidak boleh terlalu serius untuk ditanggapi, cukup dilakoni dengan senyum simpul. Senyum serat makna, tergantung siapa yang melihatnya.***
*Mahasiswa Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Tebuireng Jombang
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!