sketsa

KH M Yusuf Hasyim: Kyai Multiperan dari Tebuireng

Minggu, 2 Februari 2025 | 18:25 WIB
Mukani, Dosen Sejarah Islam STAI Darussalam Krempyang Nganjuk

Ini nampak dari keputusannaya mendirikan sekolah di lingkungan Pesantren Tebuireng. Baik jenjang SMP maupun SMA.

Baca Juga: Fenomena 'Career Cushioning' Marak di Kalangan Karyawan

Meski saat itu masih sangat asing jika sebuah pesantren mendirikan sekolah. Terlebih di lingkungan pesantren sebesar Tebuireng. Ini karena saat itu “budaya” pesantren masih cukup mendirikan madrasah saja.

Kebijakan ini menuai kritik dari berbagai pihak. Bahkan dari sesama pengasuh pesantren sendiri. Langkah ini dituduh kontraproduktif dalam peran pesantren untuk menghasilkan ulama.

Tapi Pak Ud, menurut Mas’ud Adnan (2025), tetap tidak bergeming. Meneruskan ide yang beberapa dekade kemudian baru disadari manfaatnya.

Langkah Pak Ud mendirikan sekolah di lingkungan pesantren, termasuk kemudian ma’had aly dan universitas, merupakan titik masuk dari teori Karel A. Steenbrink (1991).

Sebuah pesantren, menurut Steenbrink, mendirikan madrasah sebagai upaya merealisasikan keinginan para orang tua santri yang menginginkan anaknya diajari ilmu umum. Tidak hanya ilmu agama saja sebagaimana di pesantren.

Baca Juga: Sajak Suara Wiji Thukul: Terus Memburu Kita seperti Kutukan

Pada madrasah, komposisi ilmu agama dan ilmu umum masih berimbang. Tapi saat pesantren mendirikan sekolah, tentu komposisinya akan didominasi ilmu umum.

Ini karena secara historis, sekolah adalah sistem pendidikan yang murni dibawa oleh Belanda. Sedangkan pesantren diklaim sebagai sistem pendidikan paling tua dan asli Indonesia.

Banyak pihak mengkhawatirkan kebijakan Pak Ud mendirikan sekolah akan mereduksi eksistensi ilmu agama di lingkungan pesantren.

Kedua karakter ini, tegas dan inovatif, menjadi bukti nyata teladan yang patut ditiru para santri di Indonesia.

Baca Juga: Raja Jawa di Balik Pohon Beringin: Horor De Javu dari Orde Baru

Tidak hanya bagi santri dan alumni Pesantren Tebuireng. Fakta ini didukung dengan peran nyata bagi kemajuan Islam dan Indonesia yang diberikan Pak Ud. Dan, itu sudah ditunjukkan jauh hari sebelum Indonesia merdeka.

Rentetan historis yang secara faktual ini harus tetap dilestarikan dan diteruskan para generasi mendatang.

Halaman:

Tags

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB