sketsa

KH M Yusuf Hasyim: Kyai Multiperan dari Tebuireng

Minggu, 2 Februari 2025 | 18:25 WIB
Mukani, Dosen Sejarah Islam STAI Darussalam Krempyang Nganjuk

Baca Juga: Remaja, Media Sosial, dan Identitas Nasional

Ternyata di ruang belakang sudah menunggu Prof KH Ali Mustofa Ya’qub, imam besar Masjid Istiqlal Jakarta, dan KH Salahuddin Wahid (Gus Solah), yang kelak menggantikan Pak Ud sebagai pengasuh Pesantren Tebuireng.

Diskusi panjang berempat terjadi. Hasilnya disepakati bahwa tesis saya akan diterbitkan oleh Gus Solah. Urutannya nomer dua setelah naskah buku biografi teman Gus Solah diterbitkan terlebih dahulu. Termasuk penulis harus menelpon dulu Prof KH Ali Mustofa Ya’qub untuk masukan revisinya.

Namun karena suatu hal, tesis saya akhirnya diterbitkan Kalimedia Yogyakarta. Judulnya menjadi Berguru Ke Sang Kiai (2016).

Baca Juga: Gus Dur, Pencabutan TAP MPR, dan Gelar Pahlawan Nasional

Tegas Inovatif

Pak Ud sebagai sosok kiai dengan berbagai peran yang sudah diberikan. Tidak hanya di dunia militer, bahkan jauh hari sebelum Indonesia merdeka. Pasca purnatugas di militer, dia terus berkiprah di dunia perpolitikan.

Dirinya juga tercatat sebagai komandan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) periode pertama.

Pasukan khusus milik NU didirikan untuk mengimbangi kekuatan PKI yang sudah mulai berulah. Terutama dalam menyingkirkan peran para kiai NU di desa-desa.

Baca Juga: Saatnya Bangkit! Dari Desa ke Kota, Membangun Infrastruktur Transportasi yang Terlupakan

Latar belakang militer ternyata melahirkan karakter tegas dan disiplin dalam diri Pak Ud.

Dalam beberapa kebijakan strategis, dia dikenal tidak mengenal kompromi. Terlebih saat harus berhadapan dengan kaum komunis. Tentu dirinya tidak ada kata kompromi.

Meski demikian, sebagaimana para kiai pesantren lainnya, Pak Ud dikenal sebagai sosok yang humoris. Ketua PBNU saat itu, Rozi Munir (2007), menegaskan kedekatannya dengan Pak Ud.

Ini karena dia adalah anak sulung dari KH Moenasir Ali. Atasan Pak Ud semasa masih aktif militer.

Ketegasan dalam berpendapat yang sudah diyakini kebenarannya juga patut diteladani dari sosok Pak Ud. Dan, pendapat itu harus terus diperjuangkan untuk diwujudkan secara konsisten. Meski berbagai kritik berseliweran kesana kemari.

Halaman:

Tags

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB