sketsa

Serentak Pilkada dan Korupsinya

Minggu, 24 November 2024 | 15:45 WIB
Asrorudin, Ketua PC PMII Jombang (Dok. SketsaNusantara/As'ac Choirudin)

Asrorudin*

SketsaNusantara.id - Selamat buat Loyalis, Relawan dan Timses dan Tim Pemenangan yang sudah terbentuk jauh-jauh hari bahkan sebelum tanggal Pilkada ditentukan. Semoga di tanggal 27 November nanti, semua tidak lupa untuk jari tengahnya dicelupkan ke tinta lalu selfie dengan pose jari nomor urut junjungannya.

Sebentar lagi, kita akan berbondong-bondong datang ke TPS, memilih para calon pemimpin kita. Pemimpin-pemimpin yang kita diharapkan dapat membawa perubahan dan kemajuan di daerah kita masing-masing. Pemimpin dengan karakter yang cocok dengan apa yang tertera di baliho dan pamflet di sudut-sudut kota bahkan di desa terpencil (yang jalannya masih berlubang dan rusak itu).

Seperti biasanya dengan bertuliskan: jujur, bersih, tegas, amanah, siap berkorban demi rakyat.

Baca Juga: 7 Langkah Praktis Cek Nomor dan Lokasi TPS Pilkada 2024 dengan Mudah

Demikian besar harapan kita akan perubahan, di bawah sosok-sosok kharismatik, penyayang rakyat dan penuh wibawa itu. Sampai pada hari dimana pemenang Pilkada diputuskan, dilantik, menjalankan pemerintahan.

Lalu, tiba-tiba setelah sekian waktu, semua kecewa. Kenapa? Ternyata Pak Gubernur, atau Pak Bupati atau Walikota ketahuan Korupsi! Bedebah kata Ustazd yang mendukung!

Lantas banyak orang (tentu maksud saya adalah yang kelas menengah) ingin ganti gubernur, ganti bupati, ganti walikota. Lalu ingin Pilkada lagi. Lalu si tokoh yang terpilih itu korupsi lagi. Lalu masyarakat kecewa lagi. Ngambek, dan berharap Pilkada segera datang lagi (terutamanya sih Relawan dan Timses). Dan begitu terus siklusnya.

Baca Juga: Penyelenggara Pilkada Jember Diduga Tak Netral, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra Desak Pemanggilan KPU dan Bawaslu Jember

Menurut data KPK, hingga akhir 2023 ada tak kurang dari 188 Kepala Daerah se-Indonesia yang terlibat dalam tindak pidana Korupsi. Itu baru jumlah yang terlibat, belum uang yang lenyap.

Sepertinya, kita sama-sama sangat benci koruptor. Apalagi kalau yang korupsi itu orang yang semula kita sirami puja dan puji. Jujur saja!

Tapi bagi saya, intinya sih sudah jelas bahwa mekanisme demokrasi kita ini memang berbiaya tinggi. Gimana nggak korupsi? Kan mimpi basah namanya!

Baca Juga: Pilkada Jember Sisa 6 Hari Lagi, Cabup No 02 Gus Fawait Ajak Masyarakat Jaga Kondusifitas: Jangan Ada Fitnah dan Hoax

Sekarang coba kita lihat, untuk maju jadi bakal calon Bupati, Wikota hungga Gubernur saja, anda harus bayar mahar ke partai politik pengusung. Apalagi trend KIM PLUS (Koalisi Indonesia Maju) atau lebih tepatnya, persatuan partai-partai besar kecuali Banteng, itu bertebaran di mana-mana.

Halaman:

Tags

Terkini

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB

Kiprah Kiai Kampung Memajukan Nusantara

Kamis, 5 Februari 2026 | 17:35 WIB

Kebijakan Kuota Haji: Adakah Pelanggarannya?

Senin, 26 Januari 2026 | 09:14 WIB