Baca Juga: KPU Kabupaten Jember Tetapkan 2 Paslon untuk Berkontestasi Politik di Pilkada 2024
Berbeda dengan lawan politiknya, Gus Fawait-Djoko membawa corak pembangunan yang lebih menekankan pada potensi lokal dan green policy.
Mereka nampaknya memiliki cara tersendiri untuk mengatasi permasalahan ekonomi di Kabupaten Jember. Lebih lanjut, jika apa yang tertera dalam ketiga misi tersebut memang dilakukan, maka dimensi environmental ethics akan mendapat porsi seimbang dalam perumusan kebijakan pembangunan Gus Fawait- Djoko.
Positoning PMII
Meminjam pembacaan Fauzan Alfas, secara antropologis warga pergerakan hidup dan dibesarkan dalam budaya agraris indegeneus.
Kenyataan demikian menjadikan warga pergerakan tersosialisasikan dalam budaya dan mental agraris yang cenderung mempunyai sifat menerima kenyataan tanpa reserve.
Sebagian warga pergerakan tumbuh dan berkembang dalam kelompok dengan suasana dan tradisi santri dengan semangat “tradisionalisme” yang tinggi. Fenomena demikian, dalam konteks sosio-ekonomi dan politik menempatkannya ke dalam kelompok marjinal.
Kesadaran kesejarahan tersebut termanifestasikan ke dalam tradisi kehidupan mikro organisasi kita dan terartikulasikan dalam serangkaian sikap kelembagaan, persoalan yang dipilih untuk di jawab, serta pilihan arah gerak organisasi.
Bagaimana tidak, dengan pilihan paradigma yang kental dengan aroma perlawanan menjadikan organisasi PMII sebagai organisasi yang radikal dalam transmisi dan respons situasional.
Kenyataan nalar pengetahuan dan spirit ideologis yang gandrung dengan perlawanan ini, terkadang membuat terlena dengan sikap “oposisi” terhadap segala macam bentuk kemapanan dan kekuasaan.
Sehingga, -seperti dikatakan dalam buku Multi Level Strategi- dalam upaya perlawanan terhadap neoliberalisme justru terjebak dalam konsep-konsep liberalisme.
Baca Juga: Dorong Evaluasi Perda Kabupaten Layak Anak, PC KOPRI Jember Gelar Audiensi dengan DPRD dan OPD
Di sisi lain, mungkin perlu menilik sejarah ketika PB PMII menyatakan sikap mendukung pemerintahan presiden Gus Dur setelah sekian lama mempertahankan sikap idealnya untuk melawan status quo.