Ivan Illich dalam bukunya "Deschooling Society" mengajukan kritik radikal terhadap institusi sekolah formal. Ia berpendapat bahwa sekolah telah menjadi mekanisme pengendalian sosial yang mengalienasi individu dari pengalaman belajar yang autentik.
Sekolah, dalam pandangan Illich, menciptakan ilusi bahwa pendidikan hanya bisa terjadi dalam institusi formal yang terstruktur.
Di Indonesia, komersialisasi pendidikan menciptakan gap yang semakin lebar antara berbagai kelas sosial. Institusi pendidikan swasta yang mahal dan eksklusif hanya bisa diakses oleh kalangan menengah ke atas, sementara sekolah negeri sering kekurangan sumber daya.
Hal ini menciptakan masyarakat yang terfragmentasi, di mana kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas sangat bergantung pada status ekonomi.
Illich mengusulkan deschooling, yaitu pembongkaran sistem sekolah formal untuk digantikan dengan model pendidikan yang lebih egaliter dan berbasis komunitas.
Dalam konteks Indonesia, hal ini dapat diinterpretasikan sebagai dorongan untuk mengembangkan pendidikan alternatif yang lebih inklusif dan memberdayakan, seperti sekolah alam, homeschooling, dan program pendidikan berbasis komunitas yang tidak terlalu bergantung pada kapitalisme.
C. Erich Fromm: Pendidikan dan Eksistensialisme Humanistik
Erich Fromm, seorang psikolog dan filsuf humanis, menawarkan perspektif yang berbeda tentang pendidikan. Dalam bukunya "To Have or To Be?", Fromm membedakan antara mode eksistensi "memiliki" dan "menjadi".
Pendidikan dalam mode "memiliki" berfokus pada akumulasi pengetahuan sebagai barang yang dapat dimiliki, sedangkan pendidikan dalam mode "menjadi" berfokus pada perkembangan pribadi dan pemahaman diri yang mendalam.
Kapitalisme pendidikan di Indonesia cenderung mendorong mode "memiliki", di mana nilai pendidikan diukur dari jumlah sertifikat, gelar, dan pencapaian akademis.
Hal ini menciptakan tekanan yang luar biasa bagi siswa untuk berkompetisi dan mencapai standar yang ditentukan oleh pasar kerja, mengabaikan aspek-aspek penting seperti kreativitas, empati, dan pengembangan diri.
Baca Juga: Sajak Suara Wiji Thukul: Terus Memburu Kita seperti Kutukan
Fromm mengajak kita untuk mempertimbangkan kembali tujuan pendidikan: apakah kita ingin menciptakan individu yang hanya kompeten secara teknis ataukah individu yang utuh, kreatif, dan memiliki kesadaran sosial?