sketsa

Warisan Sasahidan Syekh Siti Jenar: Manunggaling Kawulo Gusti, Perangkap Pseudo-Sufisme atau Kritik pada Watak Feodalisme?

Rabu, 19 Juni 2024 | 09:44 WIB
Ilustrasi ajaran Sasahidan Manunggaling Kawulo Gusti Syekh Siti Jenar. (Pexels.com/Soner Arkan)

Watak Feodalisme Jawa merujuk pada sistem sosial, ekonomi, dan politik yang pernah berkembang di Jawa, di mana hubungan kekuasaan antara kelas penguasa dan rakyat biasa sangat terstruktur dan hierarkis.

Ada hierarkis yang jelas, di mana raja dan bangsawan memiliki kedudukan tertinggi, diikuti oleh kelas priyayi (pejabat dan birokrat), dan rakyat biasa atau wong cilik di lapisan paling bawah.

Seringkali watak ini terintegrasi dengan kepercayaan agama dan adat istiadat lokal. Raja atau penguasa sering dianggap sebagai perwakilan dewa atau memiliki legitimasi yang didasarkan pada mitos dan legenda lokal.

Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis terbaik dan mungkin satu-satunya di Indonesia, kerap mengkritik watak Feodalisme Jawa dalam karya-karyanya.

Pram, yang dikenal dengan pandangan-pandangannya yang progresif dan kritis terhadap ketidakadilan sosial, mengecam struktur hierarkis dan sistem patron-klien yang mendominasi masyarakat Jawa tradisional.

Ada pertalian antara karya-karya Pram yang menggugat dan menghantam langsung watak Feodalisme Jawa, baik di era sebelum dan selama Kolonialisme Belanda.

Salah satu romannya berjudul Gadis Pantai (1962) bahkan disebut "menusuk feodalisme Jawa yang tak memiliki adab dan jiwa kemanusiaan tepat langsung di jantungnya yang paling dalam".

Melintasi zaman demi zaman, wajah Kekuasaan di Indonesia seolah terwariskan dalam watak Feodalisme. Kekuasaan dilegitimasi oleh mitos dan legenda tentang wahyu yang dinisbatkan pada pemiliknya.

Sukarno, presiden pertama Republik Indonesia, mengaku ada banyak orang datang karena dirinya dianggap punya kemampuan spiritual.

Dalam otobiografinya, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat (1965), ada kisah yang dituturkan langsung kepada Cindy Adams, perihal seorang petani yang meminta air kepada Bung Karno untuk menyembuhkan anaknya.

Ia juga dianggap sebagai titisan Dewa Wisnu oleh masyarakat Bali karena dipercaya mendatangkan hujan setiap berkunjung ke sana.

Jangan tanya lagi bagaimana praktik feodalisme berkembang di masa rezim Orde Baru yang dikendalikan Soeharto. Buktinya, 32 tahun Sang Diktator berkuasa, nyaris tak ada suara yang berani menyentil karena ancamannya adalah hilang atau diasingkan.

Pelbagai praktik kekuasaan selama Soeharto berkuasa menabalkan gaya kepimpinan feodalisme dan paternalisme yang bahkan disebut melebihi raja-raja di Jawa.

Para penguasa wajib disanjung dan ditaati, tanpa kecuali.

Meskipun rezim itu telah ditumbangkan, warisannya terbukti masih terpelihara hingga saat ini.

Halaman:

Tags

Terkini

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB

Kiprah Kiai Kampung Memajukan Nusantara

Kamis, 5 Februari 2026 | 17:35 WIB

Kebijakan Kuota Haji: Adakah Pelanggarannya?

Senin, 26 Januari 2026 | 09:14 WIB