sketsa

Sastra Islam: Antara Kebajikan Kata dan Progresifitas

Sabtu, 25 Juli 2026 | 23:20 WIB
Syarif Hidayat Santoso (SketsaNusantara.id)

Binhad memang erotis juga tendensius dalam bersastra. Bagi kita, era baru dalam “erotikata” dan “birahi puisi Indonesia” ala Binhad, tak layak tervonis sebagai keliaran dalam tradisi pesantren. Jika anggur Omar Khayam dan perlawanan terhadap “konstitusi” syariat dapat terlegitimasi sebagai sastra Islami, mengapa karya Binhad tidak. Krusialitas sastra pesantren kontemporer, hanyalah berpayung kepada adab untuk mengadapsi tradisi tanpa harus mengadopsi secara kaffah. Pemaknaan ini menurut saya, lebih otentik bagi sastrawan muda yang getol melawan ortodoksi dan konservatisme.

Sejujurnya, pesantren ortodoks jarang mengibarkan panji sastra, meski tradisi sastra sebuah urgensi bagi ulama masa lalu. Bahkan bagi mereka yang ekstrem, syair kitab Barzanjipun sering dituding kepanjangan Israiliyat dalam kebudayaan Islam. Nanti, akan ada pula yang berpendapat, Kuda Ranjang juga sebuah Israiliyat kultural yang membawa tamaddun barat modern non religius.

Baca Juga: Berani Menyerang VOC di Batavia, Ini 7 Falsafah Kepemimpinan yang Menjadi Pedoman Sultan Agung Mataram Sesuai Serat Sastra Gendhing

Semestinya, sastra tidak perlu menghiraukan skriptualitas. Sastra religius-progresif lebih baik tetap mengedepankan substansialitas daripada ritual “kebajikan kata-kata”.

Bagi saya, demarkasi religius dalam bersastra merupakan murni aplikasi pembebasan terhadap keterbelakangan mental kreatif yang membahana di seantaro dunia muslim saat ini. Keliaran kata-kata dalam bersastra tidak dapat disamakan dengan otentisitas religius yang selalu diidamkan untuk mewarnai kegairahan publik.

Sastra tidak mesti hadir dengan ungkapan-ungkapan kebajikan semata. Progresifitas kesusasteraan kita memang harus berdiri di atas konsep substansi untuk melawan ketidakadilan, rezim tirani penindasan meski harus diungkapkan dengan nada yang menyimpang dari otoritas publik. Walau bagaimana pun, substansi lebih penting dari bahasa permukaan.***

*Alumni FISIP UNEJ. Berdomisili di Sumenep. Menulis di media massa terutama terkait isu keislaman. Juara 3 nasional lomba menulis Menpora-FLP 2007. Di 2009, kolumnis sebulan penuh pada rubrik Ramadan di Radar Madura.

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!


Halaman:

Tags

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB