sketsa

Sastra Islam: Antara Kebajikan Kata dan Progresifitas

Sabtu, 25 Juli 2026 | 23:20 WIB
Syarif Hidayat Santoso (SketsaNusantara.id)

 Begitulah, sabda telah datang kepada kita,

 dan telah dinyatakan dalam diriku segala maksudnya”.

Baca Juga: Siapa Pramoedya Ananta Toer? Inilah Jejak Sastrawan Terbaik Indonesia dari Penjara ke Panggung Sastra Dunia

Juga Omar Khayam dalam sebuah puisinya berujar:

”Akulah yang menjadi kepala dari para langganan kabaret

Akulah yang selalu berontak terhadap syariat

Akulah yang selama malam-malam yang panjang

Menuangkan anggur yang murni

Aku mengadu kepada Tuhan

Karena rasa sakit hatiku yang luka berdarah”

Lihatlah betapa yang diungkapkan Ibnu Arabi dan juga Omar khayam merupakan sesuatu (kalau kita melihatnya secara literalis-tekstual) sebagai pembangkangan syariah. Tentu saja, apa yang diungkapkan Ibnu Arabi dan Omar Khayam hanyalah ekspresi kiasan semata.

Inilah dunia sufi yang tak banyak berurai dengan jebakan manisnya kata-kata. Tradisi bersastra dalam tasawuf merupakan sebuah ekspresi khas Islam masa lalu yang tak terninabobokan kepentingan borjuasi tekstualitas agama. Bagi para praktisi tasawuf, mencapai Tuhan lewat manifestasi tajalli bukanlah karena terlalu muluk dengan kata-kata denotatif semata. Syair-syair Sufisme yang terlalu berangan-angan tentang relasi Tuhan (Al Haqq) dan manusia hampir kita temukan total dalam karya para mursyid tasawuf. Seandainya Salafiyah merupakan pondasi ortodoksi mayoritas saat itu, saya yakin karya-karya Rumi, Ferdowsi, Omar Khayam maupun Abu Nuwas akan dituding sebuah interupsi terhadap kebakuan religiusitas.

Kini, ratusan tahun kemudian, karya-karya mereka tersebut dengan karya Islami, meskipun ditebari khazanah mabuk anggur dan cinta disana-sini. Seorang muslim pasti akan mendudukkan tokoh-tokoh ini dalam deretan tokoh Islam klasik lainnya. Iapun akan berhujjah betapa kayanya khazanah intelektual Islam di masa mercusuar peradabannya. Jika anda membaca sebait saja dari karya Omar Khayam seperti yang saya nukil di atas -- apalagi karya Ibnu Arabi -- masihkah anda akan menggolongkan karya Omar Khayam dan Ibnu Arabi sebagai representasi yang “Islami”?

Baca Juga: Kelahiran Isa dan Menjaga Kelestarian Alam

Kalau begitu, honoritas religius atau tidaknya sebuah karya sastra Islam (termasuk pesantren) tidak dapat dilihat dari interpretasi sepihak yang adialogis. Dikotomi “Islami” dalam setiap karya sastra pesantren haruslah dimatriks dengan vitalitas untuk mensubversi kreatifitas melawan ketidakdilan tafsir tunggal yang loyal terhadap tradisi pesantren.

Halaman:

Tags

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB