Minggu, 19 Juli 2026

Kelahiran Isa dan Menjaga Kelestarian Alam

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Senin, 29 Desember 2025 | 09:25 WIB
Syarif Hidayat Santoso (SketsaNusantara.id)
Syarif Hidayat Santoso (SketsaNusantara.id)

Oleh: Syarif Hidayat Santoso*

SketsaNusantara.id - Adakah nilai-nilai menjaga kelestarian alam dalam kelahiran Isa? Nilai-nilai yang menjadi milik bersama dan tidak bersifat primordial bagi kalangan muslim saja atau Kristen saja, namun menjadi inspirasi bagi semua umat beragama. Dalam beragama zaman now dimana religiusitas hanya seremoni dan simbolitas semata, selayaknya nilai-nilai yang tak terpikirkan dan tidak pernah dipikirkan dalam kisah Isa ini disuarakan agar agama tak hanya menjadi teks beku.

Ketika Bunda Maryam Binti Imran melahirkan Isa, ada dua konteks alam yang disajikan. Anak sungai yang mengalir jernih dan pohon kurma yang buahnya masak.

Bagi umat Islam, fakta adanya sungai yang mengalir dan pohon kurma yang masak menunjukkan Isa tak lahir di bulan Desember. Sebabnya, air sungai yang mengalir menunjukkan tidak bekunya air sehingga jelas bukan musim dingin. Juga buah kurma masak yang jatuhnya gampang berkat unduhan Maryam menunjukkan peristiwa itu tak terjadi di Desember. Namun tak baik berdebat masalah ini dalam konteks relasi antar umat beragama di Indonesia. Kita seharusnya menghadirkan nilai-nilai subtil yang ekologis. Dimana agama menjadi inspirasi yang menautkan, bukan memisahkan.

Baca Juga: Asal Usul Tradisi Pesta Kembang Api saat Perayaan Tahun Baru, Berkaitan dengan Penemuan Bubuk Mesiu?

Pohon kurma subur dan anak sungai jernih mengajarkan bahwa ekosistem hidup terpelihara. Riwayat Ibnu Abbas dalam Tafsir Al Qurtubi menyebutkan, sariy (sungai) itu dulunya kering, namun kemudian mengalir lagi. Riwayat lainnya juga menceritakan bahwa pohon kurma tersebut pada mulanya keropos namun kemudian menghijau. Dua hal ini isyarat agar kita selalu melestarikan alam, bukan mematikan alam. Pohon subur hijau dan sungai yang jernih mengajarkan ekologi yang sangat bagus. Seharusnya dalam pembenahan lingkungan hidup kita tak boleh mengabaikan pepohonan produktif dengan sungai yang bebas polusi. Banyak sungai di negeri ini tercemar limbah sehingga pepohonan di sekitarnya ikut tercemar. Adanya pohon kurma subur dengan sungai yang mengalir jernih dan airnya dapat diminum menunjukkan konsep penjagaan ekosistem terpadu yang wajib kita contoh.

Uniknya, kitab-kitab tafsir lebih inspiratif lagi dalam mengisahkan Maryam dengan dua ekosistem (air dan pohon) tersebut. Diperintahkannya Maryam agar menggoyang pohon kurma agar buah kurma masak jatuh menunjukkan pentingnya ikhtiar dalam mencari rezeki.

Baca Juga: Bukan Sembarang Sunah! Makan 3 Butir Kurma saat Sahur dan Buktikan Sendiri 4 Manfaat Dahsyat Selama Puasa Ramadhan

Sebagaimana kita tahu, Maryam sebelumnya telah memiliki karomah yaitu adanya hidangan  di hadapan Maryam tanpa harus bekerja mendapatkannya. Namun kisah kelahiran Isa justru mengajarkan agar Maryam berikhtiar untuk mendapatkan rezeki. Bagi ibu hamil, ini isyarat juga agar selalu melakukan gerak badan untuk memperlancar proses persalinannya.

Paling hebat lagi dalam kisah kurma, air jernih, dan Maryam ini ada pada ayat, “maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu” (Maryam ayat 26). Dalam entitas kurma, sungai, Maryam dan Isa, Al Quran menggariskan tiga hal yaitu makan, minum dan bersenang hati. Kurma menyajikan makanan, air sungai menyajikan minuman. Uniknya, ketika menyajikan konsep bersenang hati, Quran menggunakan kalimat waqorri ainan. Qorri ainan ini maksudnya bersenang hatilah kamu dengan memandang anakmu Isa yang baru saja lahir.

Di sini jelas ada keterkaitan antara ikhtiar manusia dalam menjaga alam dengan ketersediaan pangan dan air minum serta konsep keberlangsungan untuk generasi masa depan. Dalam kisah ini, Isa adalah generasi masa depan Maryam yang menyenangkan hati namun tetap terjamin ketersedian makan dan minumnya dengan wajib melestarikan alam.

Baca Juga: Antisipasi Terjadi Banjir, Pemkab Jember Awasi Ketat Perumahan yang Diduga Gunakan Sepadan Sungai

Di sini jelas, bahwa kelahiran Isa mengandung isyarat besar agar alam dilestarikan supaya keseimbangan pangan dan air tetap terjaga demi indahnya masa depan generasi kemudian.

Luar biasa sekali konsep kitab suci kita. Kelahiran seorang bayi yang bagi kita biasa saja namun dikaitkan dengan hal-hal strategis demi masa depannya yaitu ketersediaan pangan dan air bersih. Hal ini juga tersirat dalam ajaran Kristen. Dalam Injil kelahiran Isa di kandang domba dan kisah para gembala di sekitar kisah kelahiran Isa juga bisa dikaitkan dengan isyarat pentingnya pangan ternak bergizi dalam kehidupan antar generasi.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X