sketsa

Pengakuan yang Tertunda: Mengapresiasi Keberanian Marsinah dalam Perspektif Baru

Jumat, 14 November 2025 | 20:30 WIB
M. Mahrus Thohir (SketsaNusantara.id)

M. Mahrus Thohir*

SketsaNusantara.id - Pada tanggal 10 November 2025, negara Republik lndonesia melalui Presiden Prabowo Subianto, secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Marsinah. Dia aktivis buruh asal Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Nganjuk, Jawa Timur yang gugur pada usia muda.

Pengakuan ini bukan hanya formalitas penghargaan; melainkan refleksi penting atas sejarah sosial bangsa ini. Terutama atas penetapan siapa layak disebut pahlawan serta tantangan ke depan dalam memperjuangkan hak dan keadilan.

Sekilas Marsinah

Lahir pada 10 April 1969 di Desa Nglundo, Marsinah tumbuh dalam kondisi ekonomi sederhana. Ia pernah membantu nenek dan bibinya dengan berdagang gorengan demi tambahan penghasilan keluarga. Kemudian ia bekerja di pabrik jam tangan di Porong Sidoarjo (PT Catur Putra Surya). Dia menjadi salah satu negosiator aktif dalam perjuangan buruh.

Baca Juga: Syaikhona Kholil Bangkalan, Gus Dur dan Marsinah Terima Gelar Pahlawan, DPC PKB Jember: Perjuangannya Harus Diteladani

Pada Mei 1993, ketika para buruh menuntut upah minimum dan kebebasan berserikat, Marsinah tampil sebagai suara aktif. Namun, tragedi terjadi: pada 5 Mei ia menghilang dan diculik. Pada 8 Mei 1993 ditemukan jenazahnya di Wilangan dengan luka parah.

Perjuangannya kemudian menjelma menjadi simbol bagi hak buruh, perempuan dan keadilan sosial.

Pentingnya Pengakuan

Pengangkatan Marsinah sebagai pahlawan nasional memiliki nilai simbolis yang kuat dan memiliki makna penting. Dia adalah pahlawan dari kalangan buruh: Seperti yang disampaikan oleh Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), ini adalah pertama kali seorang buruh, bahkan buruh perempuan, diangkat sebagai pahlawan nasional. Ini membuka ruang pengakuan bahwa perjuangan buruh dan kelas pekerja juga bagian integral dari sejarah bangsa, bukan semata-militer, politisi atau elit lainnya.

Baca Juga: 10 Alasan Jaringan Gusdurian Tolak Soeharto Jadi Pahlawan Nasional, Singgung Kasus Marsinah hingga Pelanggaran HAM

Marsinah tidak datang dari latar belakang berkuasa. Ia justru minor dalam struktur sosial ekonomi. Namun dia sosok berani bangkit menyuarakan haknya dan hak rekan-rekannya. Hal ini memberikan teladan bahwa pahlawan bisa berasal dari siapa saja.

Kasus pembunuhan Marsinah menjadi sorotan HAM dunia internasional. Ini menunjukkan bahwa pelanggaran terhadap pekerja dan perempuan bukan hanya masa lalu, tetapi tetap relevan dalam narasi keadilan sosial.

Dengan pemberian gelar pahlawan nasional bagi Marsinah, semangat perjuangan yang diusung Marsinah dapat dihidupkan kembali. Tapi bukan sebagai nostalgia semata, tetapi sebagai inspirasi aksi nyata bagi hari-hari ke depan.

Halaman:

Tags

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB