Irma mencoba membungkus kehilangan melalui beberapa alur menarik di buku puisi ini. Bukan sekadar tentang kesedihan, Ia merangkai masa-masa pertemuan hingga menikah menjadi pondasi yang kokoh untuk menegaskan bahwa Sus Winarno adalah orang yang tepat. Sebuah alasan kenapa kehilangan kali ini menjadi tidak mudah dan menuntunnya untuk bangkit kembali.
Ada beberapa penanda nama kota, gang, beberapa lokasi di belahan negara lain yang menguatkan bahwa perjalanan yang telah ditempuh bukanlah waktu sebentar. Irma memadukannya dengan suasana yang lekat dan manis. Sebuah momen yang sangat layak dikenang dan dirayakan.
Cerita kita dimulai dari sebuah rumah kontrakan, letaknya di gang kecil kota Jogja
Kecil sederhana tanpa hiasan, gang semakin nama kampungnya (Cuplikan puisi Cinta di Rumah Kontrakan).
Aku bahagia pernah mencintaimu di Melbourne, di antara angin musim gugur dan warna warni dedaunan
Karena di sanalah aku tahu, bahwa cinta sejati tak diukur dari lamanya pertemuan
Tapi dari dalamnya kehilangan. (Cuplikan Puisi Senja Terakhir di Melbourne)
Di sinilah kekuatan buku ini terasa. Puisi-puisi dalam buku ini bukan sekadar tulisan, tapi seperti percakapan yang belum selesai. Seperti surat yang terus ditulis untuk seseorang yang sudah tidak lagi berada di dunia yang sama. Setiap bait terasa seperti panggilan, seperti upaya untuk tetap terhubung.
Buku ini benar-benar terasa sebagai sebuah ode. Sebuah persembahan cinta yang paling dalam. Bukan ode yang megah atau penuh hiasan kata, tapi ode yang jujur, apa adanya, dan justru karena itu terasa sangat menyentuh. Ini adalah bentuk cinta yang tidak berhenti meski orang yang dicintai telah tiada.
Irma tidak berusaha terlihat kuat dalam puisi-puisinya. Ia tidak menyembunyikan rapuh. Ia menuliskan semuanya apa adanya. Rasa kehilangan, kesepian, kebingungan, bahkan ketidakberdayaan. Tapi justru dari kejujuran itu, pembaca bisa merasakan kedekatan yang sangat kuat.
Seiring berjalannya halaman, kita bisa merasakan perubahan perlahan. Dari yang awalnya penuh kehancuran, kemudian menjadi rindu yang dalam, lalu beralih menjadi perenungan, hingga akhirnya sampai pada titik penerimaan. Bukan berarti luka itu hilang, tapi ada kesadaran baru yang tumbuh. Bahwa cinta tidak benar-benar berakhir.
Rindu dalam buku ini memang tidak pernah menemukan jalan pulang. Tapi ia tidak lagi hanya menjadi sumber rasa sakit. Ia berubah menjadi doa. Menjadi cara untuk tetap terhubung dengan yang telah pergi. Menjadi jalan untuk mendekat kepada Tuhan.
Bahasa yang digunakan Irma juga sangat sederhana. Tidak ada upaya untuk terlihat rumit atau “tinggi”. Kalimat-kalimatnya pendek, langsung, dan jujur. Justru di situlah letak kekuatannya. Pembaca tidak merasa sedang membaca karya sastra yang jauh, tapi seperti mendengar seseorang berbicara dari hati ke hati.
Yang paling terasa dari buku ini adalah bagaimana cinta tetap hidup. Kehilangan memang nyata, tapi cinta tidak ikut hilang. Ia tetap ada, hanya berubah bentuk. Tidak lagi dalam kehadiran fisik, tapi dalam ingatan, dalam doa, dalam hal-hal kecil yang terus mengingatkan.
Buku ini pada akhirnya bukan hanya tentang duka, tapi tentang bagaimana seseorang belajar hidup kembali setelah kehilangan. Tidak dengan cara melupakan, tapi dengan cara menerima. Tidak dengan cara menghapus rasa, tapi dengan memeluknya.
Artikel Terkait
Aurelie Moeremans Tegas Tak Ingin Hadir di Podcast Usai Buku 'Broken Strings' Karyanya Viral, Ngaku Takut Gegara Ini
Anggota Grup WhatsApp ‘Hanampol’ akan Cetak Buku Yasin untuk Mendiang Lula Lahfah: Ada Foto Lula Pakai Hijab, Nggak?
Hukum Membeli dan Menjual Buku Bajakan Menurut Islam, Jangan Anggap Sepele!
Aurelie Moeremans Tidak Percaya Buku ‘Broken Strings’ Memberi Dampak Besar Hingga Dibawa ke DPR dan Dibahas di Sekolah
Jarang Dikenal, Puluhan Aktivis dan Pecinta Sejarah Kota Pahlawan Luncurkan Buku Biografi KH Fattah Yasin Sebagai Pejuang Bangsa
Bedah Buku Babad Alas Pertemukan Gagasan Bima Arya dan Strategi Gus Fawait