Di sinilah letak kepedihan novel tersebut. Sang ayah yang merupakan seorang guru, simbol pencerahan, justru hidup dalam kegelapan sosial.
Dalam novel ini, Pram menyodorkan fragmen nasib seorang guru yang jarang disadari, bahwa negara seringkali hanya memanfaatkan guru sebagai poster propaganda.
Di masa pasca-kemerdekaan, guru adalah alat mobilisasi politik. Mereka dijadikan ujung tombak “pencerdasan bangsa” tanpa jaminan apa pun.
Mereka tidak digaji layak, dan bahkan tidak memiliki jaminan perlindungan. Sang Ayah adalah representasi ekstrem dari kondisi itu tersebut. Tubuhnya yang semakin habis digerogoti usia dan penyakit, cita-cita yang rontok, dan pengorbanan yang tak pernah tercatat.
Saya tekankan, kalau Anda membaca novel ini tanpa rasa marah, berarti Anda tidak membacanya dengan benar.
Hari ini, pekerjaan sebagai guru masih sering diposisikan sebagai “panggilan jiwa”. Seolah profesi ini suci sehingga tidak perlu digaji secara manusiawi. Negara suka memakai kalimat indah, misalnya “pendidikan adalah kunci masa depan”.
Mirisnya, pelaksananya justru dibiarkan memikul beban yang tidak realistis. Guru harus mengikuti sistem kurikulum yang kadang absurd dan cepat berubah seperti cuaca. Mereka juga wajib mengikuti pelatihan yang sering tidak relevan, menjadi pekerja sosial di kelas, menjadi psikolog untuk murid, sekaligus menjadi mesin statistik bagi kementerian.
Seperti sang Ayah dalam novel Pram, banyak guru akhirnya jatuh sakit bukan karena usia, tetapi karena sistem yang memperlakukan mereka sebagai korban dari birokrasi yang ganas.
Tokoh Ayah dalam Bukan Pasar Malam adalah cermin yang membuat kita tidak nyaman. Ia menunjukkan apa yang terjadi ketika seorang guru dibiarkan bertarung sendiri terhadap kemiskinan, politik, dan negara yang sibuk memuja retorika.
Pram menolak glorifikasi. Tidak ada heroisme di sini. Tidak ada guru idealis yang berdiri gagah di depan kelas. Yang ada hanyalah sisa-sisa manusia yang pernah percaya pada sesuatu yang lebih besar dari dirinya, yakni kemerdekaan.
Namun, pada akhirnya ia menyaksikan bagaimana negara yang lahir dari cita-cita itu justru melupakan dirinya. Sang guru sekaligus ayah justru hadir sebagai tubuh yang sakit, rapuh, perlahan membusuk oleh TBC, dan dipinggirkan oleh perubahan sosial.
Dalam novel ini, Pram sedang memperlihatkan karakter yang secara moral seharusnya dihormati masyarakat, tetapi dalam kenyataan Indonesia pasca-revolusi hanya berakhir sebagai korban ekonomi dan struktural.
Tokoh “aku”, yang dulu dalam revolusi merasa berjaya, dipaksa pulang dan melihat bahwa negara yang ia perjuangkan tidak mampu menjaga orang seperti ayahnya, guru desa yang berjuang dalam diam. Republik yang masih berusia muda sedang gagal menepati janji terhadap kaum pendidik.
Artikel Terkait
10 Ide Kegiatan Unik dan Menarik untuk Memperingati Hari Guru Nasional, Dijamin Berkesan dan Anti Mainstream!
Tidak Selalu Bunga, Berikut Ini 10 Ide Isi Buket untuk Hari Guru Nasional, Dijamin Unik dan Berkesan
10 Ide Kado Spesial untuk Hari Guru Nasional yang Berkesan dan Bermanfaat, Dijamin Suka!
20 Link Twibbon Unik dan Estetik untuk Hari Guru Nasional 25 November: Bikin Fotomu Makin Cantik!
10 Inspirasi Caption Instagram untuk Hari Guru Nasional 25 November: Singkat, Menyentuh, dan Penuh Makna