Minggu, 19 Juli 2026

Pramoedya, Bukan Pasar Malam, dan Guru yang Selalu Jadi Korban Sejarah

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Selasa, 25 November 2025 | 08:00 WIB
Ilustrasi wajah Pramoedya Ananta Toer. (Gemini AI generated.)
Ilustrasi wajah Pramoedya Ananta Toer. (Gemini AI generated.)

SketsaNusantara.id - Ada sebuah ironi yang tak pernah tuntas dibicarakan di republik ini di setiap momen peringatan Hari Guru Nasional.

Guru dituntut untuk menciptakan kecerdasan bangsa, sementara nasib mereka sendiri dibiarkan terlunta di halaman belakang negara.

Mereka adalah profesi yang paling sering dipanggil sebagai “pahlawan”, tetapi paling jarang diperlakukan secara layak.

Baca Juga: Siapa Pramoedya Ananta Toer? Inilah Jejak Sastrawan Terbaik Indonesia dari Penjara ke Panggung Sastra Dunia

Pramoedya Ananta Toer menangkap paradoks itu dengan kejam dan telanjang lewat Bukan Pasar Malam, terutama lewat figur sang Ayah, seorang guru yang sakit, kalah oleh zaman, dan tak pernah benar-benar dipedulikan negara yang ia ikut perjuangkan.

Novel ini memang pendek, tapi ambisi moralnya panjang. Kisah yang disajikan bukan sekadar kisah tentang keluarga yang runtuh.

Narasinya menumpahkan kritik tentang bagaimana negara memperlakukan mereka yang seharusnya berada di pusat pembangunan.

Baca Juga: Pemuda Pancasila Disebut Menolak Nama Pramoedya Ananta Toer Jadi Nama Jalan di Blora, Singgung Soal Tokoh Radikal Kiri?

Guru sebagai Korban Sejarah

Pram menempatkan sang Ayah bukan sebagai sosok heroik, bukan pula panutan moral.

Karakter tersebut hanyalah manusia yang pernah percaya pada cita-cita kemerdekaan lalu dihancurkan oleh kenyataan.

Sebagai seorang mantan guru di era Revolusi Kemerdekaan, dunia di sekelilingnya terus merampas kesempatan untuk hidup bermartabat.

Baca Juga: Perayaan 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer: Sosok Sastrawan Pemberani dalam Melawan Ketidakadilan

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X