SketsaNusantara.id - Ada sebuah ironi yang tak pernah tuntas dibicarakan di republik ini di setiap momen peringatan Hari Guru Nasional.
Guru dituntut untuk menciptakan kecerdasan bangsa, sementara nasib mereka sendiri dibiarkan terlunta di halaman belakang negara.
Mereka adalah profesi yang paling sering dipanggil sebagai “pahlawan”, tetapi paling jarang diperlakukan secara layak.
Pramoedya Ananta Toer menangkap paradoks itu dengan kejam dan telanjang lewat Bukan Pasar Malam, terutama lewat figur sang Ayah, seorang guru yang sakit, kalah oleh zaman, dan tak pernah benar-benar dipedulikan negara yang ia ikut perjuangkan.
Novel ini memang pendek, tapi ambisi moralnya panjang. Kisah yang disajikan bukan sekadar kisah tentang keluarga yang runtuh.
Narasinya menumpahkan kritik tentang bagaimana negara memperlakukan mereka yang seharusnya berada di pusat pembangunan.
Guru sebagai Korban Sejarah
Pram menempatkan sang Ayah bukan sebagai sosok heroik, bukan pula panutan moral.
Karakter tersebut hanyalah manusia yang pernah percaya pada cita-cita kemerdekaan lalu dihancurkan oleh kenyataan.
Sebagai seorang mantan guru di era Revolusi Kemerdekaan, dunia di sekelilingnya terus merampas kesempatan untuk hidup bermartabat.
Baca Juga: Perayaan 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer: Sosok Sastrawan Pemberani dalam Melawan Ketidakadilan
Artikel Terkait
10 Ide Kegiatan Unik dan Menarik untuk Memperingati Hari Guru Nasional, Dijamin Berkesan dan Anti Mainstream!
Tidak Selalu Bunga, Berikut Ini 10 Ide Isi Buket untuk Hari Guru Nasional, Dijamin Unik dan Berkesan
10 Ide Kado Spesial untuk Hari Guru Nasional yang Berkesan dan Bermanfaat, Dijamin Suka!
20 Link Twibbon Unik dan Estetik untuk Hari Guru Nasional 25 November: Bikin Fotomu Makin Cantik!
10 Inspirasi Caption Instagram untuk Hari Guru Nasional 25 November: Singkat, Menyentuh, dan Penuh Makna