Minggu, 19 Juli 2026

Pramoedya, Bukan Pasar Malam, dan Guru yang Selalu Jadi Korban Sejarah

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Selasa, 25 November 2025 | 08:00 WIB
Ilustrasi wajah Pramoedya Ananta Toer. (Gemini AI generated.)
Ilustrasi wajah Pramoedya Ananta Toer. (Gemini AI generated.)

Guru dalam novel ini bukan agen pendidikan, melainkan penanda kegagalan sistem. Pram memang tidak menonjolkan kualitas pedagogis sang ayah, karena itu bukan yang ingin ia kritik.

Yang jadi sasaran adalah ironi tentang guru sebagai fondasi peradaban yang tidak pernah benar-benar dipedulikan. Guru sebagai lambang moralitas yang mati perlahan bersama tubuh si ayah.

Selamat Hari Guru Nasional.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X