Baca Juga: Tiga Srikandi dalam Pertarungan Pilgub Jatim 2024: Bukti Nyata Kepemimpinan Tidak Terbatas Gender
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengidentifikasi ketimpangan gender sebagai akar penyebab kekerasan terhadap perempuan, sebuah krisis kesehatan publik global. Ketika sebuah masyarakat menoleransi sikap yang merendahkan perempuan, ia secara implisit memberi ruang bagi bentuk-bentuk agresi yang lebih berbahaya. Namun, bahaya terbesarnya bersifat kolektif.
Misogini adalah pemborosan potensi manusia skala besar. Ia seperti sebuah negara yang memilih untuk menggunakan hanya setengah dari sumber daya manusianya, menolak ide cemerlang, kepemimpinan yang cakap, dan inovasi yang solutif hanya karena berasal dari gender tertentu.
Baca Juga: 5 Film Wulan Guritno yang Kontroversial, Mulai dari Peran Perempuan Panggilan hingga Bandar Narkoba
Mengatasi hal ini bukanlah tentang menyalahkan atau menghakimi individu yang mungkin tanpa sadar memegang bias tersebut. Sebaliknya, ini adalah ajakan untuk kontemplasi dan kesadaran kolektif. Perubahan dimulai dari pengakuan bahwa setiap individu, terlepas dari gendernya, memiliki bias yang dibentuk oleh lingkungan.
Langkah selanjutnya adalah kemauan untuk secara aktif mempertanyakan asumsi kita, mendengarkan dengan empati, dan menantang narasi yang merendahkan dalam lingkungan kita dengan cara yang santun namun tegas. Mendorong partisipasi perempuan di segala bidang bukanlah tindakan amal; itu adalah strategi paling cerdas untuk kemajuan bersama. Ketika kita secara aktif mendukung, menghargai, dan memberi ruang bagi perempuan untuk memimpin, berinovasi, dan berkontribusi secara penuh, kita tidak hanya membebaskan potensi mereka, tetapi kita membebaskan potensi kemanusiaan kita secara keseluruhan.***
*Pegiat Pendidikan Nonformal dan Informal; Ketua 2 DPP ASTINA (Asosiasi Tutor Pendidikan Kesetaraan Nasional), Ketua bidang Peningkatan Mutu PTK DPW FK-PKBM Jatim, LP Ma'arif PCNU Jombang bidang PNF
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Cerita dari Papua Selatan: Santi, Perempuan Asmat yang Menjawab Stigma Lewat Anyaman Rambut
Miss Universe: Standar Terukur, Rekam Jejak Keluarga, dan Figur Inspiratif
Marsinah, Calon Pahlawan Nasional dari Kaum Buruh