Minggu, 19 Juli 2026

Dari Bahasa ke Budaya, Menjaga Identitas Indonesia dalam Arus Globalisasi

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Senin, 27 Oktober 2025 | 07:25 WIB
Astatik Bestari (SketsaNusantara.id)
Astatik Bestari (SketsaNusantara.id)

Astatik Bestari*

SketsaNusantara.id - Bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi, melainkan jembatan budaya dan cermin kepribadian bangsa.

Di era globalisasi saat ini, batas antarnegara seolah hilang. Dunia terasa semakin sempit karena kemajuan teknologi komunikasi dan informasi. Dalam hitungan detik, seseorang dapat mengakses budaya dari berbagai belahan dunia melalui layar ponsel. Generasi muda Indonesia fasih menirukan ekspresi, mode, bahkan gaya berbicara dari budaya lain. Di tengah kemudahan ini, muncul kekhawatiran bahwa bahasa dan budaya Indonesia akan semakin tersisih oleh budaya global yang lebih dominan. Padahal, bahasa dan budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas yang membentuk jati diri bangsa.

Bahasa Indonesia merupakan tonggak penting dalam perjalanan sejarah nasional. Ikrar “Berbahasa satu, bahasa Indonesia” yang diucapkan para pemuda dalam Kongres Pemuda II tahun 1928 menegaskan bahwa bahasa memiliki kekuatan besar untuk mempersatukan bangsa. Di tengah keberagaman suku dan bahasa daerah, bahasa Indonesia menjadi alat pemersatu yang melampaui batas geografis dan sosial. Dari Sabang sampai Merauke, bahasa Indonesia memungkinkan masyarakat saling memahami, bekerja sama, dan membangun rasa kebangsaan yang utuh. Tanpa bahasa Indonesia, sulit membayangkan persatuan bangsa ini dapat bertahan kuat hingga kini.

Baca Juga: Belanja Daerah Tersendat, Misbakhun Tegaskan Dana Rp234 Triliun Harus Segera Digerakkan untuk Rakyat

Namun, di era digital, peran bahasa Indonesia menghadapi tantangan baru. Dalam percakapan sehari-hari, banyak kalangan muda yang mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan istilah asing, terutama bahasa Inggris. Ungkapan seperti update status, meeting online atau deadline tugas terasa lebih keren dibanding padanan bahasa Indonesianya. Di media sosial, fenomena ini bahkan menjadi tren yang dianggap sebagai bagian dari gaya hidup modern. Padahal, tanpa disadari, kebiasaan tersebut dapat mengikis kebanggaan terhadap bahasa sendiri. Ketika bahasa kehilangan daya tarik dan wibawa, lambat laun nilai budaya yang terkandung di dalamnya pun ikut memudar.

Bahasa dan budaya sejatinya memiliki hubungan yang tak terpisahkan. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga cermin dari sistem nilai, etika, dan cara berpikir masyarakatnya. Dalam pandangan Prof. Anton M. Moeliono, pakar bahasa Indonesia dari Universitas Indonesia, bahasa adalah wahana yang menampung, membentuk, dan menyalurkan pikiran serta kebudayaan manusia. Artinya, melalui bahasa, kita mengenal sopan santun, memahami norma sosial, serta menghayati pandangan hidup bangsa. Misalnya, dalam bahasa Indonesia dikenal berbagai bentuk sapaan yang mencerminkan rasa hormat dan hierarki sosial seperti “Bapak”, “Ibu”, atau “Saudara.” Dalam bahasa yang santun ini tersimpan nilai-nilai moral dan kearifan lokal yang membentuk karakter bangsa.

Ketika bahasa mulai tergeser oleh bahasa asing, sesungguhnya yang terancam bukan sekadar bentuk kata, melainkan juga cara berpikir dan pandangan hidup bangsa. Bahasa asing yang masuk tanpa kendali dapat membawa nilai-nilai budaya luar yang belum tentu selaras dengan karakter bangsa Indonesia. Jika hal ini dibiarkan, generasi muda akan kehilangan akar budaya dan mengalami apa yang disebut “disorientasi identitas.” Mereka mungkin merasa modern, tetapi kehilangan jati diri sebagai bangsa yang memiliki sejarah, nilai, dan warisan budaya sendiri.

Baca Juga: Gelar Silaturahmi Akbar, Fatayat di Jombang Tekankan Pentingnya Kemandirian Ekonomi

Globalisasi memang tak bisa dihindari. Arus budaya luar datang tanpa bisa dibendung melalui film, musik, mode, maupun media sosial. Namun, globalisasi tidak selalu harus dipandang sebagai ancaman. Ia juga bisa menjadi peluang untuk memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia ke dunia. Tantangannya adalah bagaimana kita mampu bersikap terbuka terhadap dunia tanpa kehilangan jati diri. Menjadi modern bukan berarti menanggalkan akar budaya bangsa, melainkan memperkaya diri dengan tetap berpegang pada nilai-nilai luhur yang kita miliki.

Pendidikan memiliki peran penting dalam menjaga dan memperkuat jati diri kebangsaan melalui bahasa. Sekolah bukan sekadar tempat belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan identitas nasional. Guru memiliki tanggung jawab besar untuk menanamkan rasa bangga terhadap bahasa Indonesia. Melalui kegiatan literasi, debat, dan karya tulis, peserta didik dapat dilatih untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik, logis, dan santun. Di ruang kelas, bahasa seharusnya menjadi jembatan pengetahuan sekaligus alat pembentuk kepribadian bangsa.

Selain lembaga pendidikan, keluarga juga memegang peran yang tak kalah penting. Orang tua dapat menanamkan kecintaan terhadap bahasa dan budaya Indonesia melalui kebiasaan sederhana seperti bercerita, membaca buku bersama, atau menggunakan bahasa Indonesia yang baik dalam percakapan sehari-hari. Upaya kecil yang konsisten dapat menumbuhkan rasa bangga pada anak terhadap bahasa dan budaya bangsanya sendiri.

Baca Juga: Impor Pakaian Bekas Disikat! DPR dan Menkeu Kompak Bubarkan Jaringan Balpres di Indonesia

Generasi muda memiliki peran strategis dalam menghidupkan kembali semangat Sumpah Pemuda melalui kreativitas. Media sosial yang selama ini dianggap sebagai pintu masuk pengaruh budaya asing justru bisa dijadikan alat untuk memperkenalkan budaya Indonesia ke dunia. Banyak kreator muda kini berhasil menggabungkan unsur tradisi dan modernitas dalam karya mereka. Contohnya, penggunaan bahasa Indonesia dalam konten video kreatif, musik, maupun puisi digital yang dikemas secara menarik. Langkah-langkah seperti ini memperlihatkan bahwa bahasa Indonesia dapat tampil dinamis dan adaptif tanpa kehilangan keasliannya.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X