Menurut data Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek (2024), penggunaan bahasa Indonesia di ranah digital meningkat secara signifikan dalam lima tahun terakhir. Kecenderungan ini menunjukkan bahwa generasi muda masih memiliki semangat untuk berbahasa Indonesia, terutama ketika mereka menemukan wadah ekspresi yang sesuai dengan gaya hidup modern. Fakta ini menjadi sinyal positif bahwa bahasa Indonesia masih memiliki daya hidup yang kuat, asalkan terus dikembangkan dan diberi ruang yang kreatif dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, pemerintah juga telah menjalankan berbagai program untuk memperkuat kedudukan bahasa Indonesia. Gerakan Literasi Nasional, Bulan Bahasa, serta pelatihan penggunaan bahasa di ruang publik merupakan beberapa bentuk nyata upaya pelestarian. Namun, keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat. Bahasa akan tetap hidup jika digunakan, dihargai, dan dijaga oleh penuturnya. Karena itu, kesadaran individu menjadi kunci utama dalam menjaga eksistensi bahasa dan budaya Indonesia.
Bahasa Indonesia bukan hanya alat komunikasi, melainkan simbol kedaulatan dan persatuan. Ia menandai siapa kita sebagai bangsa, dari mana kita berasal, dan ke mana arah langkah kita menuju masa depan. Di tengah derasnya arus globalisasi, bahasa dan budaya Indonesia seharusnya tidak dianggap beban tradisi, tetapi sumber kebanggaan dan kekuatan moral bangsa. Bahasa adalah wajah bangsa. Ketika kita menjaga bahasanya, kita sedang menjaga martabat dan peradaban bangsa itu sendiri.
Oleh karena itu, sudah saatnya kita memperlakukan bahasa Indonesia bukan hanya sebagai alat komunikasi, melainkan sebagai identitas yang perlu dirawat dengan cinta. Di tengah dunia yang terus berubah, mari menjadi generasi yang modern tanpa kehilangan akar budaya. Kita bisa menjadi warga dunia yang terbuka, tanpa harus kehilangan kebanggaan sebagai orang Indonesia. Sebab, bahasa dan budaya Indonesia bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi kompas moral yang menuntun kita menatap masa depan dengan percaya diri, bermartabat, dan berkarakter.***
*Pegiat Pendidikan Nonformal dan Informal; Ketua 2 DPP ASTINA (Asosiasi Tutor Pendidikan Kesetaraan Nasional), Ketua bidang Peningkatan Mutu PTK DPW FK-PKBM Jatim, LP Ma'arif PCNU Jombang bidang PNF
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober 2025: Tema hingga Makna Logo HSP ke-97, Terinspirasi Burung Garuda?
Semarak Hari Sumpah Pemuda yang Jatuh pada 28 Oktober, Rayakan Semangatnya dengan Twibbon Keren Ini!
Sejarah Singkat Hari Sumpah Pemuda yang Diperingati Pada 28 Oktober, Sebuah Tantangan bagi Generasi Masa Kini