Minggu, 19 Juli 2026

Menelusur Jejak Sejarah Gedung SMAN 1 Jombang; Asisten Residen, Perang Kemerdekaan dan Titik Nol

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Selasa, 19 Agustus 2025 | 17:25 WIB
Rumah Dinas Asisten Residen Belanda di Jombang tahun 1932    (Sumber: collectie.wereldculturen.nl)
Rumah Dinas Asisten Residen Belanda di Jombang tahun 1932 (Sumber: collectie.wereldculturen.nl)

Baca Juga: Peluncuran Penulisan Ulang Sejarah Indonesia Siap Oktober-November 2025, 10 Jilid Buku dari Sukarno hingga Jokowi

R Kretarto adalah bawahan Kolonel Sungkono yang menjabat sebagai Gubernur Militer Divisi I Daerah Jawa Timur. Patung R Kretarto sekarang berdiri gagah di depan PG Djombang Baru. Tepat di selatan pertigaan barat Pasar Legi. Ini dilakukan untuk mengenang perjuangan R Kretarto bersama pasukannya dalam mempertahankan Jombang sebagai garis depan wilayah Indonesia.

Resimen 32 terpaksa bermarkas di bekas rumah AR Jombang setelah Perang Arek-arek Suroboyo 10 Nopember 1945. Belanda makin bernafsu menguasai Indonesia kembali. Bahkan kekuatan militer Indonesia yang mundur ke daerah Mojokerto, juga dibombardir sedemikian rupa. Upaya untuk membangun kekuatan kembali militer Indonesia menjadi gagal dan kocar-kacir.

Dalam serangan mendadak tanggal 17 Maret 1947, pasukan Belanda mampu menguasai Mojokerto. Seluruh kekuatan militer Indonesia mundur ke Jombang yang masuk wilayah Indonesia menurut garis Van Mook. Termasuk pemerintahan sipil Jawa Timur juga mengungsi ke Jombang.

Baca Juga: Mengenal Peristiwa Kudatuli, Sejarah Kelam Politik Indonesia yang Senantiasa Diperingati PDIP Setiap 27 Juli

Rumah AR Jombang oleh Resimen 32 tidak hanya dijadikan markas, tapi juga tempat melatih para calon tentara. Sedangkan lokasi rekrutmen berada di gedung tengah kota dengan halaman luas (sekarang PT Telkom timur Kebon Rojo). Kekuatan yang terus bertambah, menjadikan Resimen 32 juga memanfaatkan gedung di depan RSUD Jombang sekarang.

Batalyon 39/Condromowo eks Laskar Hizbullah mengambil markas di rumah dinas utara PG Djombang Baru. Pesindo bermarkas di gedung depan Makodim 0814/Jombang sekarang. Sedangkan pihak kepolisian bermarkas di Dusun Plemahan Desa Banyuarang Kecamatan Ngoro. Hingga sekarang, Dusun Plemahan masih sering ditempati upacara peringatan perjuangan kepolisian, terutama dari kesatuan Brigade Mobil (Brimob).

Berbagai unsur militer yang dimiliki Indonesia ternyata tetap tidak mampu mempertahankan Jombang dari serangan Belanda. Saat pasukan Belanda berhasil menguasai Kota Jombang tanggal 29 Desember 1948 melalui agresi militer, kekuatan tentara Indonesia bergeser mundur ke daerah Kertosono Nganjuk. Ini karena memiliki benteng alam berupa Kali Brantas. Sebagian pasukan Indonesia pimpinan Darmosugondho bertahan di Desa Jombok Ngoro dan sekitarnya, agar akses menuju Pare Kediri mudah dan belum dikuasai pihak Belanda.

Baca Juga: Kisah Husein Mutahar Menyelamatkan Bendera Merah Putih saat Agresi Militer Belanda, Bukan Disembunyikan tapi di...

Saat menaklukkan Jombang, pasukan Belanda dipimpin langsung oleh Charles Olke van der Plass. Pada tahun 1936-1941, dia menjabat sebagai gubernur Belanda untuk provinsi Jawa Timur. Berdasar dokumen Sejarah Perjuangan Hizbullah di Jawa Timur (1986), mereka merangsek ke selatan untuk menangkap Pengasuh Pesantren Tebuireng saat itu, KH A Abdul Wahid Hasyim. Ayah Gus Dur ini kemudian ditangkap dan dibawa ke Jagalan, markas tentara Belanda di Jombang.

Namun upaya penangkapan itu tidak mudah karena mendapat perlawanan dari Kompi VI Batalyon 39/Condromowo yang bermarkas di Dusun Nglaban Desa Bendet, tenggara Tebuireng. Menurut Moch Faisol dalam buku Jejak Laskar Hizbullah Jombang (2018), komandan kompinya adalah KH M Yusuf Hasyim (Pak Ud), adik kandung KH A Wahid Hasyim. Meski tidak berimbang kekuatan dan persenjataan, kompi ini sempat membuat pasukan Belanda kerepotan. Bahkan dada Pak Ud sempat terserempet peluru senapan pasukan Belanda.

Bangunan AR Jombang sendiri, bersama bangunan penjara, dibumihanguskan sebelum Jombang jatuh ke Belanda. Ini terpaksa dilakukan tentara Indonesia agar bangunan-bangunan itu tidak bisa lagi digunakan Belanda dalam menjalankan roda pemerintahannya di Jombang.

Di atas puing-puing bangunan AR Jombang itulah di kemudian hari gedung SMAN 1 Jombang didirikan. Tepatnya pada tahun 1980.***

*Alumni Program Pascasarjana IAIN/UIN Sunan Ampel Surabaya (2005), tinggal di Jombang.

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X