Hal ini bahkan sudah pernah dijelaskan KH Abu Hakim Abdurrahman (almarhum), pengasuh Pesantren Sekapurtih Nganjuk. Pada suatu kesempatan, kiai kharismatik itu menjelaskan secara detail kronologi sejarah Desa Mlorah. Termasuk ringkasan tahun kisah munculnya nama Mlorah beserta nama-nama para tokohnya. Terutama sosok yang disebut sebagai wong ning pojok’an deso.
Mbah Canthing diperkirakan lahir akhir 1700-an. Aslinya dari Jawa Tengah, meski belum diidentifikasi dari kabupaten/kota asalnya. Saat sudah tinggal di Mlorah, Mbah Canthing menikah dengan Mbah Sawi dari Bojonegoro. Mereka berdua punya empat anak, yaitu Ngalinem yang dinikahi Suro Karso, Marijan, Madinem dan Simah. Hingga sekarang, para keturunan Mbah Canthing mayoritas masih tinggal di Desa Mlorah. Meski mereka tidak hidup berkumpul di satu kawasan tertentu.
Area sekitar makam Mbah Canthing sekarang sudah berstatus wakaf dan dibangun mushala. Termasuk dibangun beberapa gedung untuk TPQ. Setiap malam Jumat Pahing setelah Maghrib digelar istighosah dan tahlil berkirim doa kepada para pendiri Desa Mlorah. Di samping mengenang spirit perjuangan yang sudah ditunjukkan salah satu anggota Laskar Pangeran Diponegoro itu.***
*Dosen STIT Urwatul Wutsqo Bulurejo Jombang
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di Sini
Artikel Terkait
Ki Ageng Jejer Guru Sultan Agung: Orang Paling Berpengaruh dalam Sejarah Kerajaan Mataram Islam di Pulau Jawa
Kisah di Balik Dibangunnya Situs Candi Songgoriti oleh Utusan Mpu Sindok di Era Mataram Kuno Jawa Timur, Berhubungan Kuat dengan Sumber Air?
Makam Mbah Canthing di Desa Mlorah Nganjuk: Jejak Laskar Diponegoro, Dari Tempat Angker Jadi Pusat Kegiatan Keagamaan