Mukani*
SketsaNusantara.id - Mlorah adalah nama salah satu desa di Kecamatan Rejoso Kabupaten Nganjuk. Sebagai objek kajian, sejarah Desa Mlorah bisa dibahas dari dua pendekatan, baik Mataram Kuno maupun Mataram Islam. Tentu kedua pendekatan tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan. Tergantung perspektif yang digunakan berdasarkan sumber data yang digunakan.
Pendekatan Mataram Kuno
Pertama adalah pendekatan Hindu-Budha dengan perspektif kerajaan Mataram Kuno. Pendekatan ini mendasarkan kepada temuan lingga di salah satu punden Desa Mlorah, tepatnya di selatan balai Desa Mlorah. Orang kebanyakan menyebutnya punden Mbah Jantho. Lokasinya di timur jalan raya Nganjuk-Bojonegoro.
Golden History Entertainment (2017) menobatkan punden Mbah Jantho sebagai salah satu dari 48 makam keramat yang ramai diziyarahi di Jawa Timur. Di samping makam KH M Hasyim Asy’ari Tebuireng, Gus Miek Mojo Kediri, Bathara Katong Ponorogo, Bung Karno Blitar dan lain sebagainya.
Punden ini terdiri dari satu batu lingga dan beberapa fragmen batu. Lokasinya berada di antara sela akar pohon yang menaungi situs. Di sebelahnya terdapat sumur tua. Batu bata yang disusun khas kuno era Mataram Kuno.
Lingga diidentifikasi sebagai simbol Dewa Siwa dalam agama Hindu. Dia juga bisa menjadi simbol dari maskulinitas. Jika disandingkan dengan yoni, dipastikan area sekitar digunakan sebagai lokasi pemujaan bagi pengikut agama Hindu-Budha.
Lingga juga bisa menjadi simbol batas wilayah tertentu di era Mataram Kuno zaman Mpu Sindok. Ini bisa dikomparasikan dengan batu lingga yang ditemukan di Desa Watugaluh Kecamatan Diwek Jombang. Meski dengan ukuran yang agak kecil jika dibandingkan yang di Mlorah. Tapi bentuknya mirip.
Lingga di Watugaluh itu bahkan disebut dalam prasasti Anjuk Ladang yang ditemukan di Candi Lor Loceret Nganjuk. Isinya berbunyi: kita prasidha manraksang ranghyangta Medang I Bumi Mataram I Watugaluh. Prasasti itu bertahun Saka 859 alias 937 Masehi.
Lokasi ibu kota sebelumnya berada di Tamwlang (Tembelang) Jombang. Penetapannya ditulis di Prasasti Watu Gilang bertahun 929 Masehi. Peristiwa perpindahan ibukota kerajaan Mataram Kuno ke Watugaluh ini diduga terjadi pada 10 April 937 M. Tidak heran jika hari jadi Desa Watugaluh ditetapkan tanggal 10 April.
Artinya, berdasarkan pendekatan pertama ini, Mlorah diidentifikasi sebagai desa kuno yang sudah ada sejak zaman kerajaan Mataram Kuno. Mlorah di masa silam klasik menjadi daerah penting yang subur sehingga dijadikan batas wilayah kerajaan yang harus dipertahankan (perdikan).
Warga Desa Mlorah baru menyadari hal ini ketika hal aneh terjadi di tahun 1990-an. Saat pohon trembesi besar di tengah sawah timur punden ditebang. Hanya menyisakan beberapa meter. Sore harinya turun hujan lebat disertai angina kencang.
Artikel Terkait
Ki Ageng Jejer Guru Sultan Agung: Orang Paling Berpengaruh dalam Sejarah Kerajaan Mataram Islam di Pulau Jawa
Kisah di Balik Dibangunnya Situs Candi Songgoriti oleh Utusan Mpu Sindok di Era Mataram Kuno Jawa Timur, Berhubungan Kuat dengan Sumber Air?
Makam Mbah Canthing di Desa Mlorah Nganjuk: Jejak Laskar Diponegoro, Dari Tempat Angker Jadi Pusat Kegiatan Keagamaan