Keesokan harinya pohon itu berdiri tegak lagi. Karena takut, beberapa warga Mlorah yang mengambil kayu untuk dibuat kayu bakar akhirnya mengembalikan semua ke tempat semula. Kini di lokasi yang sama masih ada pohon trembesi dengan ukuran masih kecil.
Namun beberapa hari setelah peristiwa itu ditemukan benda-benda kuno. Informasi dari Murhardi/Partoko (2017), barang itu berupa tiga keris kuno. Termasuk dua lencana prajurit kerajaan yang terbuat dari emas. Saat itu, barang-barang tersebut dibawa seseorang dari luar kota.
Titik kedua dari pendekatan Mataram Kuno ini adalah situs Janeng. Lokasinya berada di pojok selatan desa. Menurut penuturan Parjimun (2011), sesepuh desa Mlorah, desanya memiliki tiga titik awal. Pertama adalah sumber mata air di sisi selatan desa, yang sekarang dikenal dengan daerah Janeng. Kedua adalah punden Mbah Jantho yang berada di selatan balai desa. Ketiga adalah keberadaan Mbah Canthing.
Salah satu sesepuh desa Mlorah lainnya pernah bercerita kepada Heri Susanto (2025). Dia mendeskripsikan Mbah Janeng sebagai sosok tua. Penampilannya sebagaimana seorang Brahmana kerajaan kuno Hindu. Berbaju putih dengan jenggot dan rambut yang sudah berwarna putih semua.
Pendekatan Mataram Kuno dalam “membaca” sejarah Desa Mlorah juga diperkuat dengan banyaknya temuan benda-benda kuno. Terutama di area persawahan sekitar punden Mbah Janto. Termasuk di lahan pertanian barat Dusun Sugihwaras dan persawahan utara Dusun Tugu. Meskipun kesemuanya belum dilakukan eskavasi dan riset lebih lanjut.
Pendekatan Mataram Islam
Pendekatan kedua ini menggunakan setting dari Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro. Locus dari pendekatan ini adalah Kerajaan Mataram Islam. Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Sulawesi, banyak laskarnya hijrah ke Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Khusus di Nganjuk, menurut Zainul Milal Bizawie dalam buku Jejaring Ulama Diponegoro (2019: 283), jejaring laskar Diponegoro ada Mbah Karimun di Desa Petak Bagor. Termasuk di Pesantren Miftahul Ula Nglawak Kertosono dengan sosok KH Abdul Fattah Jalalain. Kemudian keberadaan Mbah Canthing yang tinggal dan wafat di pojok Desa Mlorah, Kecamatan Rejoso, Nganjuk.
Menurut Parjimun (2011), dibanding situs Mbah Jantho dan daerah Janeng, sosok Mbah Canthing memegang peran terpenting dalam periode awal pendirian Desa Mlorah. Bahkan Mbah Canthing dianggap sebagai lurah pertama di desa ini. Itulah mengapa warga Mlorah menghormati keberadaan makam Mbah Canthing hingga sekarang.
Nama asli Mbah Canthing adalah Tumenggung Sri Moyo Kusumo. Menurut KH Riyanto (2019), Mbah Canthing adalah pejabat dan bangsawan di kerajaan Mataram Islam. Tidak heran jika di depan namanya disematkan gelar tumenggung.
Tugasnya saat itu adalah menikahkan rakyat kerajaan Mataram Islam ketika itu. Istilahnya pada masa sekarang disebut penghulu. Saat Perang Jawa meletus tahun 1825, Mbah Canthing menjadi salah satu anggota Laskar Diponegoro melawan pasukan Belanda.
Keberadaan Mbah Canthing diidentifikasi dan diyakini sebagai orang pertama yang tinggal di Desa Mlorah. Menurut Imam Hartoyo (2019), Ketua MWC NU Rejoso yang juga warga asli Desa Mlorah, sebenarnya sudah mulai ada titik terang terkait sejarah awal mula Mlorah. Meski diakui Mlorah memang desa yang memiliki sejarah panjang.
Artikel Terkait
Ki Ageng Jejer Guru Sultan Agung: Orang Paling Berpengaruh dalam Sejarah Kerajaan Mataram Islam di Pulau Jawa
Kisah di Balik Dibangunnya Situs Candi Songgoriti oleh Utusan Mpu Sindok di Era Mataram Kuno Jawa Timur, Berhubungan Kuat dengan Sumber Air?
Makam Mbah Canthing di Desa Mlorah Nganjuk: Jejak Laskar Diponegoro, Dari Tempat Angker Jadi Pusat Kegiatan Keagamaan