Minggu, 19 Juli 2026

Asal Usul Desa Mlorah di Nganjuk

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Jumat, 11 April 2025 | 22:45 WIB
Lingga di punden Desa Mlorah Nganjuk.   (D'Travellers, 2021)
Lingga di punden Desa Mlorah Nganjuk. (D'Travellers, 2021)

Keesokan harinya pohon itu berdiri tegak lagi. Karena takut, beberapa warga Mlorah yang mengambil kayu untuk dibuat kayu bakar akhirnya mengembalikan semua ke tempat semula. Kini di lokasi yang sama masih ada pohon trembesi dengan ukuran masih kecil.

Namun beberapa hari setelah peristiwa itu ditemukan benda-benda kuno. Informasi dari Murhardi/Partoko (2017), barang itu berupa tiga keris kuno. Termasuk dua lencana prajurit kerajaan yang terbuat dari emas. Saat itu, barang-barang tersebut dibawa seseorang dari luar kota.

Titik kedua dari pendekatan Mataram Kuno ini adalah situs Janeng. Lokasinya berada di pojok selatan desa. Menurut penuturan Parjimun (2011), sesepuh desa Mlorah, desanya memiliki tiga titik awal. Pertama adalah sumber mata air di sisi selatan desa, yang sekarang dikenal dengan daerah Janeng. Kedua adalah punden Mbah Jantho yang berada di selatan balai desa. Ketiga adalah keberadaan Mbah Canthing.

Baca Juga: Kisah Punden Gembul yang Sakral dan Ramai Peziarah, Konon Jadi Tempat Berkumpul Wali Songo Sebelum Syiar Islam di Tanah Jawa

Salah satu sesepuh desa Mlorah lainnya pernah bercerita kepada Heri Susanto (2025). Dia mendeskripsikan Mbah Janeng sebagai sosok tua. Penampilannya sebagaimana seorang Brahmana kerajaan kuno Hindu. Berbaju putih dengan jenggot dan rambut yang sudah berwarna putih semua.

Pendekatan Mataram Kuno dalam “membaca” sejarah Desa Mlorah juga diperkuat dengan banyaknya temuan benda-benda kuno. Terutama di area persawahan sekitar punden Mbah Janto. Termasuk di lahan pertanian barat Dusun Sugihwaras dan persawahan utara Dusun Tugu. Meskipun kesemuanya belum dilakukan eskavasi dan riset lebih lanjut.   

Pendekatan Mataram Islam

Pendekatan kedua ini menggunakan setting dari Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro. Locus dari pendekatan ini adalah Kerajaan Mataram Islam. Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Sulawesi, banyak laskarnya hijrah ke Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Khusus di Nganjuk, menurut Zainul Milal Bizawie dalam buku Jejaring Ulama Diponegoro (2019: 283), jejaring laskar Diponegoro ada Mbah Karimun di Desa Petak Bagor. Termasuk di Pesantren Miftahul Ula Nglawak Kertosono dengan sosok KH Abdul Fattah Jalalain. Kemudian keberadaan Mbah Canthing yang tinggal dan wafat di pojok Desa Mlorah, Kecamatan Rejoso, Nganjuk.

Makam Mbah Canthing di Desa Mlorah, Rejoso, Nganjuk. (Dok. SketsaNusantara.id)

Menurut Parjimun (2011), dibanding situs Mbah Jantho dan daerah Janeng, sosok Mbah Canthing memegang peran terpenting dalam periode awal pendirian Desa Mlorah. Bahkan Mbah Canthing dianggap sebagai lurah pertama di desa ini. Itulah mengapa warga Mlorah menghormati keberadaan makam Mbah Canthing hingga sekarang.

Baca Juga: Lokasi Masjid Gedhe Mataram Yogyakarta, Peninggalan Kerajaan Mataram Islam Tertua dengan Berbagai Pesona Budayanya

Nama asli Mbah Canthing adalah Tumenggung Sri Moyo Kusumo. Menurut KH Riyanto (2019), Mbah Canthing adalah pejabat dan bangsawan di kerajaan Mataram Islam. Tidak heran jika di depan namanya disematkan gelar tumenggung.

Tugasnya saat itu adalah menikahkan rakyat kerajaan Mataram Islam ketika itu. Istilahnya pada masa sekarang disebut penghulu. Saat Perang Jawa meletus tahun 1825, Mbah Canthing menjadi salah satu anggota Laskar Diponegoro melawan pasukan Belanda.

Keberadaan Mbah Canthing diidentifikasi dan diyakini sebagai orang pertama yang tinggal di Desa Mlorah. Menurut Imam Hartoyo (2019), Ketua MWC NU Rejoso yang juga warga asli Desa Mlorah, sebenarnya sudah mulai ada titik terang terkait sejarah awal mula Mlorah. Meski diakui Mlorah memang desa yang memiliki sejarah panjang.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X