Minggu, 19 Juli 2026

Makam Mbah Canthing di Desa Mlorah Nganjuk: Jejak Laskar Diponegoro, Dari Tempat Angker Jadi Pusat Kegiatan Keagamaan

Photo Author
As'ad Choirudin, Sketsa Nusantara
- Rabu, 13 November 2024 | 12:14 WIB
Makam Mbah Canthing di Desa Mlorah, Kecamatan Rejoso, kabupaten Nganjuk. (SketsaNusantara.id/As'ad Choirudin)
Makam Mbah Canthing di Desa Mlorah, Kecamatan Rejoso, kabupaten Nganjuk. (SketsaNusantara.id/As'ad Choirudin)

SketsaNusantara.id - Nama asli sosok ini adalah Tumenggung Sri Moyo Kusumo. Warga sekitar menyebutnya Mbah Canthing. Tokoh yang babat alas di Desa Mlorah, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk.

Makam kunonya berada di ujung jalan Pangeran Diponegoro. Tepatnya di RT 04 RW 01. Warga lebih mengenalnya dengan daerah pojok’an.

Ini karena lokasinya yang berada persis di pojok desa Mlorah. Barat makam sudah termasuk wilayah Dusun Jati Desa Jatirejo. Utaranya terhampar persawahan luas.

Baca Juga: Kenapa Bung Tomo Tidak Dimakamkan di Makam Pahlawan? Ini Alasan Tokoh Pertempuran 10 November Tersebut Dikuburkan di TPU

Makam kuno ini sudah dipagari keliling. Bahkan batu nisannya sudah tidak ditemukan. Di timur makam dibangun joglo ukuran 5x6 meter. Diperuntukkan para peziarah yang hendak berdoa. Akses jalan ke lokasi pun sudah dipaving.

Nama desa Mlorah sendiri tidak lepas dari kiprah Mbah Canthing saat melawan Belanda. Setelah menyingkir ke lokasi ini, Mbah Canthing menikah dengan Mbah Sawi dari Bojonegoro. Pernikahan ini berhasil memiliki empat anak, yaitu Ngalinem, Marijan, Madinem dan Simah.

Keturunan Mbah Canthing sekarang banyak yang tinggal di desa Mlorah. Rata-rata sudah berada pada generasi keempat dan kelima. Lokasi tinggalnya tidak berkumpul pada satu kawasan. Namun menyebar di beberapa tempat di desa Mlorah, bahkan di beberapa dusun sekitar.

Baca Juga: Misteri 3 Lokasi Makam Syekh Subakir, Ulama Persia di Balik Kisah Paku Tanah Jawa di Gunung Tidar Magelang

Mbah Canthing adalah penghulu di Kerajaan Mataram Islam. Sebelum meletus Perang Diponegoro (1825-1830), tugas utamanya adalah menikahkan warga di kerajaan Islam itu.

Saat meletus perang, dirinya bergabung dalam Laskar Diponegoro. Namun setelah Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda dan diasingkan ke Sulawesi, Mbah Canthing bersama ketiga temannya melanjutkan kiprah ke wilayah Jawa Timur.

Dahulu lokasi ini diakui warga sekitar sangat angker. Meski di siang hari. Ini karena makam Mbah Canthing dikelilingi pekarangan kosong dan bambu lebat. Tidak jarang lokasi ini disalahgunakan hal-hal negatif. Terutama terkait perjudian.

Baca Juga: Kenapa Gunung Tidar Disebut Paku Tanah Jawa? Ternyata Berkaitan dengan Makam Syekh Subakir di Magelang!

Kini di sekitar lokasi didirikan banyak bangunan. Di barat makam, ada bangunan dua lantai menghadap ke timur. Setiap lantai terdiri dari tiga ruang. Di depannya berdiri gazebo untuk mengaji anak-anak.

Setelah Maghrib, juga digunakan mengaji santri putri. Sedangkan yang putra di mushola. Lokasinya di selatan makam. Dulu belum ada bangunan lain antara makam dengan mushola.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X