Minggu, 19 Juli 2026

Makam Mbah Canthing di Desa Mlorah Nganjuk: Jejak Laskar Diponegoro, Dari Tempat Angker Jadi Pusat Kegiatan Keagamaan

Photo Author
As'ad Choirudin, Sketsa Nusantara
- Rabu, 13 November 2024 | 12:14 WIB
Makam Mbah Canthing di Desa Mlorah, Kecamatan Rejoso, kabupaten Nganjuk. (SketsaNusantara.id/As'ad Choirudin)
Makam Mbah Canthing di Desa Mlorah, Kecamatan Rejoso, kabupaten Nganjuk. (SketsaNusantara.id/As'ad Choirudin)

Pengelolaan kegiatan berada di Yayasan Nahdhotul Muta’allimin. Pengasuhnya adalah Kiai Riyanto. Sosok asli warga Desa Mlorah ini lama menimba ilmu di Pesantren Sewulan Madiun. Dari Kiai Riyanto, banyak cerita tentang sosok Mbah Canthing.

Baca Juga: Fakta di Balik Puluhan Makam yang Disegel Diduga karena Masalah Sengketa Tanah, Ternyata Cuma Akal-akalan Warga? Begini Penjelasan PN Indramayu

Kiai enam cucu ini menambahkan, kegiatan di lokasi ini diakui bisa menghapus aktivitas negatif pada masa sebelumnya. Meski harus secara perlahan dan membutuhkan waktu lama.

“Kalau malam Jumat, di mushola sini rutin istigosah, tahlil dan pengajian,” ujarnya kepada SketsaNusantara.id, Senin 11 November 2024. Yang memimpin istigosah dan tahlil dirinya sendiri. “Mengaji kitabnya Ta’lim Muta’allim, yang membaca menantu saya,” imbuhnya.

Setiap malam Jumat Kliwon, lanjutnya, jamaah yang berdatangan banyak dari luar desa. “Bahkan ada yang dari luar kecamatan, seperti Berbek. Sukomoro, Loceret, Gondang dan Ngluyu,” jelasnya. Penceramahnya Kiai Abdul Azis Syukur, katib syuriah MWCNU Rejoso.

Jamaah yang hadir sekitar 200 orang. “Insya Allah bangunan di sini masih cukup menampung, karena di depan mushola sudah ditambahi atap,” ujarnya.

Pengajian bagi anak-anak digelar sore hari dan setelah Maghrib. “Metodenya memakai Ummi, santri yang sore sekitar 80 anak lebih, yang setelah Maghrib tidak kurang 30 anak, baik putra maupun putri,” ucapnya. Meski diakui pendirian madrasah diniyahnya masih terkendala. “Belum bisa diteruskan,” keluhnya.

Khusus setiap malam Jumat Pahing, lokasi istigosah dan tahlil dipindah ke joglo timur makam. Ini karena menurut warga di sini, kelahiran desa Mlorah pada hari itu. “Jadi kirim doanya langsung di timur pusara makam Mbah Canthing,” imbuhnya.

Para santri yang mengaji di sini juga dibekali keterampilan. “Baik komputer maupun mengemudi mobil,” kata pengelola lembaga Heri Susanto. Pria berkacamata ini menuturkan sudah 20 tahun membantu. “Ketenangan jika bisa membantu di lembaga sini,” ujarnya.

Ditanya keinginan ke depan, Kiai Riyanto berharap lembaga yang dikelola bisa lebih bermanfaat bagi masyarakat. Sesuai tujuan awal para pewakaf tanahnya. Meskipun ada beberapa tanah yang dibeli.

“Saya sudah tua, tidak ingin ikut-ikutan politik lagi, biar ganti yang muda saja,” ujarnya. Dirinya mengaku banyak jamaah yang tanya tentang calon bupati pilihannya, dirinya menjawab diplomatis. “Siapapun yang menang jadi bupati Nganjuk nanti, ya itu yang saya dukung sebagai bupati saya,” pungkasnya.

Dikonfirmasi secara terpisah, Mukani menjelaskan saat Perang Diponegoro meletus, banyak kalangan mendukung.

Tepatnya sebanyak 108 kiai, 31 haji, 15 syaikh, 12 penghulu Yogyakarta dan 4 kiai guru yang ikut ke dalam laskar Pangeran Diponegoro. “Itu sesuai data dari Peter BR Carey,” ujarnya.

Dosen sejarah Islam STAI Darussalam Krempyang Nganjuk ini meyakini Mbah Canthing adalah salah satu di antara angka itu. “Dia memilih jalur Mancanegara Wetan yang menyebar ke daerah Jawa Timur bersama teman-temannya,” imbuhnya.

Pola yang digunakan, lanjutnya, mereka hijrah secara berkelompok. Pada beberapa lokasi singgah, terkadang salah satu anggota rombongan memilih untuk tetap tinggal dengan tujuan membuka lahan yang baru dalam berdakwah (Jawa: babat alas). Sedangkan rombongan lainnya meneruskan perjalanan.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X