Sementara itu, aturan perihal penggunaan Bahasa Bagongan di lingkup Kedhaton Keraton Yogyakarta baru ditetapkan pada tahun 1755 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I.
Bahasa Kedaton atau yang lebih familiar disebut Bahasa Bagongan merupakan bahasa yang dipakai oleh Abdi Dalem di area Kedhaton dan tempat penugasan mereka.
Penggunaan bahasa Bagongan tak lain adalah untuk menghilangkan kesenjangan satu sama lain dan menciptakan persatuan di antara penghuni keraton.
Bahasa Bagongan sendiri sejajar dengan bahasa krama Madya, namun ada beberapa kosakata yang berbeda.
Setidaknya ada 11 kosakata utama Bahasa Bagongan yang berbeda dengan bahasa Krama Madya.
Namun pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII, ada satu kosakata yang tidak digunakan lagi, yaitu seyos (sanes atau lain).
Dan berikut ini 10 kosakata utama Bahasa Bagongan yang masih dipakai hingga saat ini.
1. Henggeh (hinggih): iya
2. Mboya (mboten): tidak
3. Menira (manira): saya
4. Pekenira (pekenira): anda
5. Penapi (punapi): apa
6. Peniki (punika/niki): ini
7. Peniku (puniku): itu
8. Wenten (wonten): ada
9. Nedha (suwawi/sumangga): silakan, mari
10. Besahos (kemawon/bae): saja***
Artikel Terkait
Makna Saka Tatal, Tiang Penyangga Masjid Agung Demak Buatan Sunan Kalijaga, Terbuat dari Kayu Jati Hutan Majapahit?
Anak-anak Boleh Ikut, 5 Tradisi Malam 1 Suro di Berbagai Daerah di Pulau Jawa, Mulai Jamasan Pusaka Hingga Pawai Obor
5 Fakta Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Kesultanan Mataram yang Gigih Melawan VOC, Punya Nama Asli...
Situs Makam Aermata Ratu Ebhu Bangkalan Madura, Terdapat Sumber Air yang Tercipta dari Air Mata Sang Ratu?!
7 Tradisi Malam 1 Suro di Pulau Jawa, Ada Kirab Kebo Bule Keraton Solo hingga Tapa Bisu Keraton Yogyakarta
Mengenal 2 Permaisuri Sultan Agung, Nama Asli hingga Keturunan yang Menjadi Putra Mahkota
Kepala Desa Wajib Nikah 1 Tahun Sekali, Tradisi Unik Malam 1 Suro Warga Temanggung, Konon Bikin Awet Muda
Kalender Jawa: Penanggalan Paling Rumit di Dunia Peninggalan Sultan Agung, Simbol Akulturasi Islam dan Budaya Jawa