SketsaNusantara.id -Masyarakat Indonesia memiliki beberapa sistem penanggalan dalam menentukan waktu.
Kalender Masehi yang perhitungannya berdasarkan perputaran bumi mengelilingi Matahari.
Selain kalender Masehi, masyarakat Indonesia juga familiar dengan kalender Jawa.
Kalender Jawa adalah sistem penanggalan yang lahir pada masa pemerintahan Sultan Agung hingga disebut juga Kalender Sultan Agungan.
Sebelum lahir Kalender Sultan Agungan, masyarakat Jawa menggunakan Kalender Saka yang diadaptasi dari India dan sering dikaitkan dengan kisah Raja Aji Soko.
Konon Kalender Saka mulai digunakan bersamaan dengan penyebaran agama Hindu-Budha dari India ke Nusantara.
Baca Juga: Mengenal 2 Permaisuri Sultan Agung, Nama Asli hingga Keturunan yang Menjadi Putra Mahkota
Seiring masuknya Islam di Nusantara, Kalender Saka mengalami perubahan, tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Agung.
Sultan Agung menggabungkan sistem kalender Saka dengan sistem kalender Islam.
Penggabungan inilah yang kemudian menjadikan Kalender Jawa sebagai salah satu bukti akulturasi agama Islam dengan budaya Jawa seperti dikutip SketsaNusantara.id dari laman Indonesia.go.id.
Kalender Jawa juga menjadi salah satu maha karya peninggalan Sultan Agung.
Artikel Terkait
Mitos dan Legenda Malam 1 Suro, Dipercaya Akan Datangnya Sosok Penting Pelindung Masyarakat Jawa
Nama Asli Samin Surosentiko, Priyayi yang Jadi Petani dan Pencetus Ajaran Samin di Blora, Mahatma Gandhi dari Jawa?
Anak-anak Boleh Ikut, 5 Tradisi Malam 1 Suro di Berbagai Daerah di Pulau Jawa, Mulai Jamasan Pusaka Hingga Pawai Obor
Apa Itu Jamasan Pusaka Malam 1 Suro di Solo? Ini 4 Fakta Tradisi Masyarakat Jawa dan Ada Tahapan Penting Nggak Boleh Ngawur
7 Tradisi Malam 1 Suro di Pulau Jawa, Ada Kirab Kebo Bule Keraton Solo hingga Tapa Bisu Keraton Yogyakarta