SketsaNusantara.id - Masyarakat Jawa merayakan tahun baru Islam dengan sebutan malam 1 Suro, sebuah tradisi yang berasal dari Kerajaan Mataram Islam dan diinisiasi oleh Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma (1613-1645).
Sultan Agung ingin mengganti Kalender Saka (kalender Jawa dan Hindu) dengan kalender yang sesuai dengan penanggalan agama Islam.
Selain itu, malam 1 Suro juga dikenal dengan mitos kedatangan Aji Saka ke Pulau Jawa yang dikisahkan mampu membebaskan rakyat dari cengkeraman makhluk gaib.
Setiap tahun, Kesultanan Yogyakarta, Kasunan Surakarta, dan Kasepuhan Cirebon rutin mengadakan berbagai ritual untuk memperingati malam satu Suro.
Lalu Siapakah Sebenarnya Aji Saka?
Dilansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube mliwis ireng, Aji Saka disebut-sebut berasal dari Bumi Majeti, sebuah negeri antah-berantah yang mitologis.
Ada yang menafsirkan bahwa Aji Saka berasal dari Jambudwipa (India) dari suku Shaka (Scythia), sehingga ia dinamai Aji Saka (Raja Shaka).
Legenda ini melambangkan kedatangan ajaran dan peradaban Hindu-Buddha ke Pulau Jawa.
Namun, ada juga penafsiran lain yang menyatakan bahwa kata Saka berasal dari bahasa Jawa, yang berarti penting, pangkal, atau asal-mula.
Sehingga namanya bermakna "raja asal-mula" atau "raja pertama".
Artikel Terkait
Nama Asli 9 Wali Songo dan Asal Usul Julukannya, Ada yang Bergelar Pangeran hingga Paus-nya Jawa
Bak Atlantis, Kerajaan Demak 'Hilang' tanpa Sisa? Inilah 2 Pusaka Terakhir Peninggalan Kerajaan Islam Pertama di Jawa
Makna 3 Atap Masjid Agung Tertua Peninggalan Islam di Nusantara, Bukti Warisan Hubungan Politik Jawa dan Cina
Dibiayai dan Dibangun oleh Pabrik Rokok, Jalan Tol ini akan Menghubungkan 2 Kota di Jawa Timur
Desa Mutilasi, Tempat Murid Sunan Bonang Meregang Nyawa di Tangan Prajurit Majapahit, Ada di Jawa Timur
Gunung Gede Pangrango: Destinasi Pendakian Favorit Pemula di Jawa Barat, Bisa Nikmati 2 Puncak Sekaligus