Kamis, 4 Juni 2026

Apa Itu Barikan? Mengenal Tradisi Malam 1 Suro yang Masih Eksis di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Asal Namanya dari Bahasa Arab

Photo Author
Siti Nurlaela Hanifah, Sketsa Nusantara
- Rabu, 3 Juni 2026 | 16:00 WIB
Ilustrasi tradisi Barikan yang diselenggarakan tiap malam 1 Suro (Pexels/Sebastian Voortman )
Ilustrasi tradisi Barikan yang diselenggarakan tiap malam 1 Suro (Pexels/Sebastian Voortman )

SketsaNusantara.id - Menjelang 1 Muharam 1448 H sejumlah daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur masih melestarikan tradisi dalam menyambut Tahun Baru Islam.

Salah satunya adalah Barikan, tradisi malam tahun baru Islam atau yang dalam penanggalan Jawa dikenal dengan nama malam 1 Suro.

Tradisi ini menjadi salah satu bentuk akulturasi budaya Jawa dan nilai-nilai Islam yang hingga kini tetap bertahan di tengah perkembangan zaman.

Baca Juga: Grebeg Suro Andalan Warga Sukoreno Umbulsari Jember Semarak, Keberagaman Agama Membaur Jadi Satu

Meski pelaksanaannya bisa berbeda di setiap daerah, tujuan utamanya tetap sama, yakni memanjatkan doa untuk keselamatan, keberkahan, dan ketenteraman masyarakat.

Di sejumlah desa, Barikan bahkan menjadi agenda rutin yang selalu digelar setiap malam 1 Suro dan melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Dikutip SketsaNusantara.id dari laman resmi Desa Wonosari, Kabupaten Kendal, tradisi Barikan berasal dari kata 'barokah' yang dalam bahasa Arab berarti keberkahan.

Baca Juga: Dianggap Sakral, Inilah 5 Pantangan di Bulan Suro Bagi Masyarakat Jawa, Salah Satunya Larangan Menikah

Seiring waktu, penyebutannya mengalami penyesuaian dalam budaya Jawa hingga dikenal sebagai Barikan.

Tradisi ini umumnya dilaksanakan dengan cara berkumpul di perempatan jalan, balai desa, musala atau lokasi tertentu yang telah ditentukan masyarakat setempat.

Warga kemudian membawa berbagai makanan dari rumah masing-masing untuk didoakan bersama sebelum disantap secara bergotong royong.

Baca Juga: 4 Ritual dan Tradisi Sakral di Bulan Suro, Ada Selamatan Khusus Selama Seminggu hingga Melarung Sesaji

Selain doa bersama, beberapa daerah juga mengisi Barikan dengan pembacaan tahlil, dzikir, pengajian hingga tausiyah keagamaan.

Tradisi tersebut menjadi simbol rasa syukur kepada Tuhan sekaligus harapan agar masyarakat dijauhkan dari berbagai marabahaya.

Halaman:

Editor: Siti Nurlaela Hanifah

Sumber: wonosari.kendalkab.go.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X