SketsaNusantara.id – Sosok Sunan Muria merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah penyebaran Islam di Pulau Jawa. Ia dikenal sebagai wali yang dimakamkan di kawasan pegunungan, tepatnya di puncak Gunung Muria. Keberadaannya hingga kini masih menjadi magnet bagi peziarah sekaligus pusat tradisi budaya masyarakat setempat.
Sunan Muria memiliki nama asli Raden Umar Said, yang juga dikenal sebagai Raden Said. Ia merupakan putra dari Sunan Kalijaga, salah satu wali yang terkenal dengan pendekatan dakwah berbasis budaya. Warisan metode tersebut juga diteruskan oleh Sunan Muria dalam menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat.
Dalam perjalanan dakwahnya, Sunan Muria dikenal menggunakan pendekatan kesenian dan budaya lokal. Strategi ini dinilai efektif karena mampu menyatu dengan kehidupan masyarakat yang saat itu masih kental dengan tradisi Hindu-Buddha. Dengan cara tersebut, ajaran Islam dapat diterima secara damai tanpa menimbulkan konflik sosial.
Baca Juga: Bukan Wali Songo, Ini Kisah Sunan Bayat dan Legenda Karomahnya yang Mengutuk Perampok Menjadi Domba
Selain metode dakwah yang unik, Sunan Muria juga dikenal memiliki berbagai karomah atau keistimewaan spiritual. Salah satu yang paling dikenal adalah keberadaan pelana kuda yang digunakan saat berdakwah. Benda tersebut hingga kini masih disimpan di kompleks makamnya dan dirawat sebagai bagian dari peninggalan sejarah.
Pelana kuda tersebut memiliki nilai simbolik sekaligus spiritual bagi masyarakat sekitar. Meski kondisinya sudah tidak seperti semula, benda itu tetap dijaga sebagai warisan penting yang mengandung makna sejarah dan religius. Masyarakat percaya bahwa pelana kuda tersebut memiliki kaitan dengan karomah Sunan Muria.
Kepercayaan tersebut tercermin dalam tradisi tahunan yang dikenal dengan sebutan “guyang cekathak”. Tradisi ini dilakukan oleh warga Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus, terutama saat musim kemarau panjang melanda.
Prosesi diawali dengan doa bersama di kompleks makam Sunan Muria. Setelah itu, pelana kuda dibawa secara beriringan menuju Sendang Rejoso yang berjarak sekitar setengah kilometer. Di lokasi tersebut, pelana kuda kemudian dibersihkan menggunakan air sendang sebagai simbol permohonan kepada Tuhan agar menurunkan hujan.
Tradisi ini tidak hanya menjadi ritual spiritual, tetapi juga sarana mempererat kebersamaan warga. Setelah prosesi pembersihan, masyarakat biasanya melanjutkan dengan makan bersama sebagai bentuk rasa syukur.
Salah satu bagian unik dari tradisi ini adalah penggunaan cendol dawet sebagai simbol turunnya hujan. Hal tersebut mencerminkan harapan masyarakat agar kemarau segera berakhir dan digantikan dengan musim hujan yang membawa berkah.
Baca Juga: Kisah Sunan Ampel Ditikam Lembu Peteng saat Dakwah Damai Wali Songo di Tengah Cemooh dan Perlawanan
Bagi masyarakat setempat, tradisi guyang cekathak bukan sekadar ritual, tetapi juga bentuk keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Karomah Sunan Muria diyakini masih dirasakan hingga kini, meskipun hasil dari doa tersebut tidak selalu datang secara instan.
Kehadiran Sunan Muria tidak hanya meninggalkan jejak sejarah, tetapi juga tradisi yang terus hidup di tengah masyarakat. Nilai-nilai dakwah yang mengedepankan kearifan lokal serta semangat kebersamaan menjadi warisan penting yang tetap relevan hingga saat ini.
Artikel Terkait
Menyingkap Karomah Tersembunyi 3 Tokoh Wali Songo yang Terkenal Paling Sakti di Tanah Jawa, Salah Satunya Ada Hubungannya dengan Palestina
Jejak Nawa Dewata di Balik Konsep Wali Songo pada Era Majapahit, Penjaga Alam Semesta yang Melindungi Arah Mata Angin
Bukan Sekadar Dakwah, Inilah 8 Tugas Rahasia Wali Songo dalam Membangun Ulang Jawa Lama
Larangan Tegas terhadap Perbuatan Syirik, Primbon Ajaran Sunan Bonang Dianggap Kunci Memahami Islam Wali Songo
Tersembunyi di Belantara, Tempat Ibadah di Wonogiri ini Disebut sebagai Rintisan Masjid Demak Peninggalan Wali Songo