Minggu, 12 Juli 2026

Kisah Sunan Ampel Ditikam Lembu Peteng saat Dakwah Damai Wali Songo di Tengah Cemooh dan Perlawanan

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Minggu, 1 Februari 2026 | 16:30 WIB
Ilustrasi, kisah Sunan Ampel yang ditusuk seseorang. (Pexels/Amirul Chakim)
Ilustrasi, kisah Sunan Ampel yang ditusuk seseorang. (Pexels/Amirul Chakim)

SketsaNusantara.id - Sunan Ampel merupakan salah satu Wali Songo tertua dalam sejarah Islam Nusantara.

Perannya menandai fase awal penyebaran Islam di Pulau Jawa. Dakwahnya dikenal menggunakan pendekatan persuasif dan penuh empati.

Raden Rahmat, nama asli Sunan Ampel, menjejakkan kaki di Jawa setelah singgah di Palembang. Ia bertemu Adipati Arya Damar sebelum melanjutkan perjalanan. Saat itu, masyarakat Majapahit mayoritas memeluk Hindu, Buddha, dan Kapitayan.

Baca Juga: Sebelum Makamnya Ramai Jadi Tujuan Ziarah, Inilah Jejak Sunan Ampel dari Champa ke Surabaya

Situasi sosial tersebut membuat ajaran Islam tidak langsung diterima. Penolakan bahkan perlawanan terbuka kerap muncul.

Meski begitu, Sunan Ampel tetap memilih cara merangkul dalam setiap langkah dakwahnya.

Salah satu kisah yang populer menceritakan adanya penentangan dari penguasa Madura bernama Lembu Peteng.

Baca Juga: Amalan Sunan Ampel, Kyai Hasyim Asy'ari, hingga Gus Dur untuk Pembuka Aliran Rezeki yang Deras

Ketidaksukaan itu ditunjukkan dengan mengusir dua utusan Sunan Ampel. Utusan tersebut adalah Khalifah Usen dan Syekh Ishak.

Dikutip dari Atlas Wali Songo karya KH Agus Sunyoto, Lembu Peteng mengusir kedua utsan tersebut. Ia juga datang menyamar berbaur bersama para santri ke wilayah Ampeldenta.

Sunan Ampel merupakan putra Syekh Ibrahim As-Samarkandi dari Kerajaan Campa. Kedatangannya ke Jawa terjadi pada awal abad ke-15. Peristiwa itu bertepatan dengan runtuhnya Kerajaan Campa akibat serangan Kerajaan Koci.

Di kawasan Ampel, Surabaya, Raden Rahmat diangkat sebagai imam. Ia mendapat gelar sunan sekaligus wali di Ampeldenta. Pengangkatan tersebut dilakukan langsung oleh Raja Majapahit.

Mengacu catatan Sedjarah Regent Soerabaja, Sunan Ampel disebut sebagai bupati pertama Surabaya. Sementara itu, penyamaran Lembu Peteng di Ampel membawa tujuan mencelakai Sunan Ampel. Ia menunggu waktu menjelang salat isya.

Lembu Peteng bersembunyi di kulah atau tempat wudu. Saat Sunan Ampel datang, keris langsung dihunus. Serangan tikaman dilakukan secara tiba-tiba ke tubuh sang wali.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: Atlas Wali Songo, Agus Sunyoto, Pustaka Iman, Jakarta, 2014

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X