Sabtu, 18 Juli 2026

Pengajian Lailatul Itima', Kiai di Jombang Ini Sebut NU Berada di Garis Terdepan Lawan PKI

Photo Author
As'ad Choirudin, Sketsa Nusantara
- Selasa, 2 Juni 2026 | 22:35 WIB
Pengajian Lailatul Ijtima' MWC NU Diwek, Jombang. (SketsaNusantara.id/As'ad Choirudin)
Pengajian Lailatul Ijtima' MWC NU Diwek, Jombang. (SketsaNusantara.id/As'ad Choirudin)

SketsaNusantara.id - Ratusan jamaah memadati Masjid Mustawa Mojosongo, Diwek, Jombang, Jatim, Selasa 2 Juni 2026,alam. Mereka menghadiri Lailatul ljtima' yang digelar Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Diwek.

Jamaah yang hadir berasal dari para pengurus NU di berbagai desa di Kecamatan Diwek. Termasuk para pengurus badan otonom dan lembaga NU.

Tampak hadir KH Ahmad Nurul Fuad, Wakil Ketua PCNU Jombang. Termasuk KH Hamdi Soleh, Ketua Tanfidziyah MWCNU Diwek. Juga hadir KH Imam Muhid, sesepuh warga NU Kecamatan Diwek.

Baca Juga: Miris, Warga Jual Lagi Daging Kurban Gratis demi Penuhi Kebutuhan Hidup, Ternyata Tak Semua Orang Boleh Melakukannya? Ini Penjelasannya Menurut Islam

Rangkaian kegiatan dimulai dengan jamaah shalat lsya dan berbagai shalat sunah. Dilanjut dengan istigosah yang dipimpin Kiai Muhammad Rofiq. Lalu berlanjut dengan pembacaan shalawat Nabi Muhammad Saw.

Selaku pengurus ranting NU Balongbesuk, Gus Sobih merasa senang desanya ditempati kegiatan Lailatul Ijtima MWCNU Diwek. "Semoga bisa menambah ketenangan hati dan meningkatnya iman kita bersama," ujarnya.

Dia berharap para jamaah yang hadir bisa terus menambah ilmu lewat kegiatan ini. "Karena manfaatnya sangat luar biasa bagi kehidupan kita," ungkapnya.

Baca Juga: Bolehkah Terima Daging Kurban dari Non-Muslim? Masjid Istiqlal Terima 60 Hewan Qurban Termasuk dari Gereja Katedral, Begini Hukumnya Menurut Islam

Hal senada disampaikan KH Hamdi Soleh, ketua MWCNU Diwek. "Karena NU itu wadah yang terbuat dari emas, yang dibikin para muasis dulu," ujarnya.

Dia berharap agar warga NU terus berada dalam satu wadah emas itu. "Kita ini tetap satu saudara, meski ditaruh di manapun, yang namanya emas tetaplah emas," imbuhnya.

Perjalanan bangsa lndonesia, lanjutnya, juga tidak lepas dari peran para tokoh yang diwadahi dalam NU. "Seperti tahun 1965, saat PKI memberontak, NU berada di garis terdepan untuk melawan," tambahnya.

Saat menyampaikan pengajian, KH Ahmad Nurul Fuad lebih banyak mengutip isi kitab At-Tibyan karya pendiri NU KH Hasyim Asy'ari. Dia menegaskan bahwa semua perbuatan bisa bernilai ibadah.

Baca Juga: Hukum Jual Kulit Hewan Kurban untuk Kepentingan Masjid dan Santri, Ini Dalil serta Pendapat Para Ulama

"Yang penting tergantung niatnya sehingga bernilai ibadah," ujarnya. Dirinya menekankan pentingnya mencari ilmu lalu diamalkan. "Karena ilmu tanpa diamalkan ibarat pohon tidak berbuah," imbuhnya.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

X