SketsaNusantara.id - Bagi masyarakat Jawa, bulan Muharram lebih akrab dengan sebutan Bulan Suro atau Sura.
Penamaan Suro juga digunakan dalam kalender Jawa yang diciptakan Sultan Agung dengan menggabungkan kalender Islam dan Saka (Hindu-Budha).
Kata Suro sendiri berasal dari bahasa Arab yakni Asyura yang mengacu pada tanggal 10 Muharram.
Bagi masyarakat Jawa, bulan Suro sering dianggap sebagai bulan spiritual hingga bulan prihatin.
Bulan Suro sering digunakan sebagai momen untuk merefleksikan diri dan penyucian jiwa bagi masyarakat Jawa.
Bulan pertama dalam kalender Jawa ini juga dimangaatkan sebagai momen untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Salah satunya dengan menghindari sejumlah kegiatan duniawi dan memperbanyak tirakat atau kegiatan spiritual lainnya.
Baca Juga: Bertepatan dengan 1 Muharram, Inilah Mitos dan Pantangan Malam 1 Suro Dalam Masyarakat Jawa
Tak heran jika kemudian lahir berbagai mitos dan pantangan di Bulan Suro dalam tradisi masyrakat Jawa.
Dari hasil penelusuran tim redaksi, ada beberapa pantangan di Bulan Suro yang hingga saat ini masih diyakini oleh masyarakat Jawa.
Salah satunya larangan menikah dibulan Suro yang masih dilakukan oleh masyarakat Jawa.
Artikel Terkait
Di Balik Larangan Pejabat Masuk ke Masjid Menara Kudus: Kisah Ajian Sunan Kudus di Tengah Perebutan Tahta Kesultanan Demak
Wajib Dipatuhi! Ini Larangan dan Aturan Khusus Peserta Kirab Pusaka Malam 1 Suro Keraton Solo 2024
Lokasi Punden Nyai Ageng Bagelen Purworejo: Petilasan Keramat dengan Berbagai Larangan, Konon Diucapkan Sebelum Moksa dari Bumi
Dugaan Larangan Jilbab pada Paskibraka 2024 Tuai Kontroversi: Ini Sejarah Perjalanan Hijab di Indonesia
Rahasia Candi Gebang yang Berdekatan dengan Sungai Larangan di Sleman, Ternyata Menyimpan Hal Ini...
Kuliner Soto Dahlok Jember yang Melegenda: Dari Dapur Keluarga ke Meja Para Tokoh Negeri, Ternyata ini Rahasianya