Minggu, 19 Juli 2026

Pondok Pesantren Tertua di Jember? 5 Fakta Sejarah Ponpes Salafiyyah: Berdiri Sejak Tahun 1930-an hingga Mau Diserang PKI

Photo Author
Anisa Maharani, Sketsa Nusantara
- Selasa, 15 April 2025 | 20:30 WIB
Ilustrasi salah satu pondok pesantren tertua di Kabupaten Jember. (freepik.com/ rawpixel.com)
Ilustrasi salah satu pondok pesantren tertua di Kabupaten Jember. (freepik.com/ rawpixel.com)

SketsaNusantara.id - Kabupaten Jember memiliki sejumlah tempat unik dan bersejarah.

Mempelajari dna mengenal tempat-tempat kuno di Jember memang memiliki daya tarik tersendiri.

Bukan hanya terkenal dengan sejumlah wisata alam yang cantik dna indah, Kabupaten Jember juga punya bangunan-bangunan penuh makna.

Baca Juga: Jember Bisa Kaya Mendadak? Intip Investasi Terbesar di Wilayah Itu, Punya Barang Berkilau yang Harganya Gak Main-Main

Salah satunaya adalah bangunan pondok pesantren sebagai tempat perbaikan akhlak bagi anak-anak hingag remaja muslim.

Pondok pesantren atau ponpes biasanya identik dengan tempat untuk menimba ilmu agama Islam.

Di Jember ada banyak pondok yang sudah lama berdiri bahkan sebelum zaman Indonesia merdeka.

Baca Juga: Perjalanan Cinta Istri Sunan Gunung Jati Putri Kaisar Tiongkok dari Dinasti Ming, 3 Benda Ini Jadi Bukti Asmara Keduanya Tak Hanya Legenda

Salah satunya yang banyak dikenal masyarakat adalah Pondok Pesanteren Salafiyyah yang terdapat di Desa Curahkates, Kecamatan Ajung, Jember.

Ponpes ini diasuh oleh seorang ulama bernama Hadratus Syaikh KH Khotib Abdul Karim, Muasis Ma’had 'Salafiyyah' di pondok pesantren Salafiyyah Curahkates, Kabupaten Jember.

Ayah KH Khotib Abdul Karim bernama Bapak Syarif yang berprofesi sebagai seorang petani dan ibundanya bernama Ratinem.

Baca Juga: Sederhana Namun Legendaris! Inilah Pasar Tradisional Pinggir Laut di Selatan Kecamatan Ambulu, Jember

Walaupun berasal dari kalangan rakyat biasa, perilaku sang ayah sangat arif dan berbudi luhur kepada sesamanya dan sosok yang karismatik.

Ia memiliki harapan jika kelak keturunannya bisa menjadi seorang alim ulama yang mengibarkan panji-banji Islam di lingkungannya.

Halaman:

Editor: Anisa Maharani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X