Melatih diri untuk khusyu dalam shalat berarti telah membekali dirinya dengan konsentrasi yang dibutuhkan dalam merespon tantangan hidupnya masa kini, terlebih di masa depan.
Kedua adalah secara jasmani (fisiologi). Berbagai gerakan badan ketika shalat adalah bentuk latihan gerak badan menuju sehat; kondisi suci badan, suci pakaian dan tempat.
Kebersihan dan kesehatan dibutuhkan oleh setiap manusia, supaya hidupnya menjadi berharga dan menjadi sumber utama bagi manusia untuk dapat merasakan segala kenikmatan.
Baca Juga: Raja Jawa di Balik Pohon Beringin: Horor De Javu dari Orde Baru
Ketiga adalah secara kemasyarakatan (sosiologi). Pendisiplinan shalat berjamaah merupakan latihan hidup bersama dalam sosial dengan gerak langkah yang seirama dalam komando imam yang tetap memperhatikan aspirasi anggota jamaah jika imam terjadi kekeliruan.
Saat shalat berjamaah, segala bentuk diskriminasi karena kekayaan, kedudukan, jabatan, kepangkatan harus ditinggalkan.
Pembiasaan dan pendisiplinan shalat dalam keluarga dapat menjadi media pembelajaran ranah belajar cara untuk tahu (learn how to know), belajar cara untuk hidup (learn how to be) dan belajar cara melakukan (learn how to do).
Termasuk juga di dalamnya adalah belajar untuk hidup bersama orang lain (learn to live together). Ini berarti shalat juga dapat menjadi media pengembangan aspek-aspek yang terkait dengan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual seseorang menuju keselamatan dan kesejahteraan diri sendiri bersama masyarakat.
Pada konteks ini, kesalehan sosial orang yang secara konsisten (istiqamah) melaksanakan shalat bisa mewujud.
Dia shalat tidak sekedar melaksanakan kewajiban dari Allah Swt, Namun juga menunjukkan perilaku-perilaku positif bagi lingkungan sekitarnya.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!
*Penulis adalah Guru SMAN 1 Jombang dan Dosen STAI Darussalam Krempyang Nganjuk