Kemampuan berpikir kreatif memungkinkan perempuan untuk menghadapi tantangan dengan cara yang lebih inovatif. Selain itu, kreativitas memberi kekuatan bagi perempuan untuk mengembangkan diri lebih lanjut baik seacara pribadi maupun professional.
Dengan berpikir kreatif, perempuan dapat mengeksplorasi potensi mereka dan mencari cara baru untuk mencapai tujuan maupun mewujudkan impiannya tanpa terbatas oleh batasan tradisional atau stereotip yang ada.
Lebih lanjut, kreativitas sangatlah penting di dunia professional. Sehingga, perempuan yang kreatif dapat menciptakan peluang karier bagi diri mereka sendiri, mengembangkan usaha secara mandiri, berinovasi dalam pekerjaan, atau bahkan menciptakan pekerjaan sesuai minat dan keahlian mereka.
Kreativitas begitu penting untuk dimiliki perempuan. Oleh karenya, kader KOPRI harus kreatif agar dapat menciptakan peluang atas kehidupannya secara pribadi, social dan Professional.
Kreativitas dapat dibentuk dengan memiliki rasa penasaran (rasa ingin tahu) yang besar. Cobalah menjadi kader KOPRI yang selalu bertanya “mengapa” dan “bagaimana” dalam berbagai situasi, serta jelajahi topik baru dengan banyak membaca buku dan mendengarkan podcast.
Hal yang lain, dedikasikan waktu untuk berkreasi melalui menulis, mengeksplorasi hobi, membuat kerajinan tangan, atau bahkan merancang usaha baru. Selanjutnya, kreativitas berkembang saat berani keluar dari kebiasaan (zona nyaman) dan mencoba hal-hal baru. Maka, kader KOPRI harus berani gagal dan keluar dari zona nyaman. Selain itu, kader KOPRI juga perlu menghargai setiap proses, bukan hanya pada hasil akhirnya. Nikmati setiap langkah dan biarkan dirimu berkembang sepanjang perjalanan.
Refleksi keempat, perempuan harus tetap berpanduan pada Moral dan Etika untuk menjadi Pribadi yang tangguh (AGAMIS).
Menjadi perempuan yang agamis memiliki banyak manfaat baik dari segi spiritual, psikologis, maupun sosial. Agama memberikan nilai-nilai moral yang jelas, seperti kejujuran, kebaikan, empati, dan keadilan.
Prinsip-prinsip agama akan membantu dalam mengambil keputusan yang etis diberbagai aspek kehidupan. Selain itu, menjadi perempuan yang Agamis, akan mendorong perempuan untuk menghormati diri sendiri dan orang lain, serta memperkuat hubungan yang sehat dan penuh rasa hormat.
Tidak hanya itu, perempuan yang agamis akan memiliki landasan kuat dalam menghadapi segala tekanan social yang tidak sejalan dengan nilai-nilai moral dan agama. Agama akan menjadi benteng yang melindungi dan menjadi pedoman agar perempuan tetap hidup sesuai prinsip yang benar.
Kader KOPRI harus menjadi pribadi yang agamis dan tangguh dengan berpanduan pada Moral dan Etika. Kita dapat memulainya dengan konsisten dalam beribadah dan menjaga nilai-nilai keagamaan (Ahlussunnah waljama’ah) dalam menjalankan segala aspek dalam kehidupan.
Salah satu terpenting lainnya adalah tetap tenang melalui kesabaran dalam menghadapi cobaan dan rasa syukur terhadap segala nikmat Tuhan. Bahwa selalu ada hikmah atau pembelajaran dalam setiap hal. Selain itu, dengan nilai Agamis yang dimiliki kader KOPRI akan senantiasa menjalankan tugas mulianya dalam kehidupan untuk menjadi kholifah fil ‘ard yang bermanfaat bagi sesama dan menjaga alam yang ada.
Demikianlah 4 refleksi dalam 57 Tahun KOPRI membangun negeri. Empat refleksi itu kemudian secara ringkas disebut sebagai CENDIKIA (Cerdas, Mandiri-Kreatif, dan Agamis).
Secara harfiah, cendikia sendiri menggambarkan seseorang yang memiliki pemikiran kritis, bijaksana, dan memiliki pengetahuan luas yang berguna bagi masyarakat.
Maka ke depan, untuk mengembangkan institusi KOPRI setidaknya harus dapat menciptakan SWASEMBADA KOPRI CENDIKIA yang berarti ruang kaderisasi dan advokasi bagi perempuan khusunya kader putri PMII yang berkualitas, berkompetensi, serta mampu berkontribusi pada pengembangan masyarakat tanpa meninggalkan nilai-nilai keislamannya.