3. Fokus pada Pengembangan Diri: Sejalan dengan pemikiran Fromm, pendidikan harus difokuskan pada pengembangan individu secara holistik, bukan sekadar pencapaian akademis. Pendidikan yang mengutamakan "menjadi" akan membantu siswa menemukan jati diri mereka dan berkontribusi positif pada masyarakat.
Kapitalisasi Pendidikan: Pengaruh dan Implikasinya
Kapitalisasi pendidikan di Indonesia tidak hanya mengubah cara pendidikan diselenggarakan tetapi juga berdampak pada berbagai aspek kehidupan sosial dan ekonomi.
Proses kapitalisasi ini melibatkan beberapa mekanisme utama, termasuk privatisasi institusi pendidikan, komodifikasi layanan pendidikan, dan integrasi pendidikan dengan pasar kerja. Dalam bagian ini, kita akan menggali lebih dalam bagaimana kapitalisasi pendidikan bekerja dan apa implikasinya bagi masyarakat.
Pertama Privatisasi Pendidikan. Secara empirik pendidikan di Indonesia dimulai dengan munculnya sekolah-sekolah dan universitas swasta yang menawarkan kualitas pendidikan yang dianggap lebih baik dibandingkan institusi negeri.
Hal ini menciptakan pasar kompetitif di mana institusi pendidikan bersaing untuk menarik siswa yang mampu membayar biaya tinggi.
Dampak dari privatisasi ini meliputi:
1. Akses yang Tidak Merata
Institusi pendidikan swasta sering kali memiliki fasilitas yang lebih baik dan tenaga pengajar yang lebih berkualitas dibandingkan sekolah negeri, namun aksesnya terbatas pada mereka yang mampu membayar biaya mahal.
Hal ini memperdalam ketimpangan sosial dan mengurangi kesempatan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk mendapatkan pendidikan berkualitas.
2. Standarisasi Kualitas Pendidikan
Dengan adanya berbagai standar dan akreditasi yang diterapkan oleh institusi swasta, kualitas pendidikan cenderung lebih terstandarisasi. Namun, ini juga berarti bahwa pendidikan menjadi lebih homogen dan kurang fleksibel dalam memenuhi kebutuhan individu siswa yang beragam.