*Isna Asaroh
SketsaNusantara.id - Pendidikan di Indonesia mengalami transformasi signifikan dalam beberapa dekade terakhir, namun tetap diwarnai oleh berbagai masalah struktural dan sistemik.
Salah satu isu paling menonjol adalah komersialisasi dan kapitalisasi pendidikan. Sistem pendidikan yang seharusnya menjadi alat untuk pembebasan dan pemberdayaan masyarakat kini cenderung menjadi komoditas yang diperjualbelikan.
Dalam konteks ini, pemikiran para filosof kritis seperti Paulo Freire, Ivan Illich, dan Erich Fromm menjadi sangat relevan untuk dianalisis.
Baca Juga: Fenomena 'Career Cushioning' Marak di Kalangan Karyawan
Menurut para filosof.
A. Paulo Freire: Pendidikan sebagai Praktik Pembebasan
Paulo Freire, dalam karya monumentalnya "Pedagogy of the Oppressed", mengkritik keras sistem pendidikan yang ia sebut sebagai "pendidikan bank" di mana siswa diperlakukan seperti wadah kosong yang harus diisi dengan informasi oleh guru.
Dalam pandangan Freire, sistem ini tidak lebih dari alat penindasan yang mengekalkan status quo dan ketidakadilan sosial.
Di Indonesia, pendidikan seringkali menjadi alat untuk menanamkan ideologi dominan dan melanggengkan hierarki sosial. Kurikulum yang kaku dan berbasis ujian membuat siswa lebih berfokus pada penghafalan daripada pemahaman kritis.
Baca Juga: Banyak Provinsi yang akan Berakhir Masa Bonus Demografi
Kapitalisme pendidikan memperparah situasi ini dengan menjadikan pendidikan sebagai barang dagangan, di mana akses dan kualitas pendidikan bergantung pada kemampuan finansial.
Hal ini bertentangan dengan visi Freire tentang pendidikan sebagai praktik pembebasan yang mengutamakan dialog, kesadaran kritis, dan transformasi sosial.
B. Ivan Illich: Sekolah Sebagai Institusi yang Mengasingkan