sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
dialah yang mengajari aku bertanya
dan pada akhirnya tidak bisa tidak
engkau harus menjawabnya
apabila engkau tetap bertahan
aku akan memburumu seperti kutukan
(Wiji Thukul)
SketsaNusantara.id - Hari ini, 26 Agustus 2024, adalah hari kelahiran Wiji Thukul, seorang penyair dan aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), dikenal lewat puisi-puisinya yang kerap menggedor-gedor jantung kekuasaan rezim Orde Baru.
Seandainya pria yang bernama asli Widji Widodo ini masih hidup, ia telah menginjak usia 61 tahun.
Baca Juga: Raja Jawa di Balik Pohon Beringin: Horor De Javu dari Orde Baru
Berdasarkan WHO, usia tersebut masuk dalam kategori lanjut usia (elderly), yakni rentang 60-74 tahun. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), diperkirakan jumlah rentang usia ini mencapai angka 35,5 juta jiwa di Indonesia pada tahun 2025.
Namun siapa yang peduli, karena sekali lagi; Wiji Thukul telah "tiada".
Ia adalah satu dari sekian orang yang dinyatakan hilang sejak 10 Februari 1998, hanya 3 bulan sebelum rezim Soeharto tumbang.
Dalam siaran pers Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) yang diterbitkan tahun 2000, ia dikabarkan sempat bertemu temannya tetapi akhirnya hilang jejak.
KontraS menduga dengan kuat bahwa hilangnya sang penyair berkaitan dengan aktivitas yang ia lakukan menjelang kejatuhan Soeharto.
Terlebih lagi, masa-masa tersebut krusial karena rezim Orde Baru semakin bengis dengan operasi represif pembersihan aktivitas politik.
Masih dikutip dari siaran pers KontraS, selain Wiji Thukul, ada 22 aktivis yang 13 di antaranya belum kembali.
Empat tahun sejak dinyatakan hilang, ia dianugerahi Yap Thiam Hien Award, sebuah penghargaan bagi orang-orang yang berjasa pada penegakan hak asasi di Indonesia.