Minggu, 19 Juli 2026

Sajak Suara Wiji Thukul: Terus Memburu Kita seperti Kutukan

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Senin, 26 Agustus 2024 | 09:00 WIB
Sajak Suara Wiji Thukul. (Kolase Youtube Grimloc Records dan Antitank Project)
Sajak Suara Wiji Thukul. (Kolase Youtube Grimloc Records dan Antitank Project)

Setahun yang lalu, Siti Dyah Sujirah alias Sipon telah berpulang tetapi tak pernah menyerah mencari keadilan atas hilangnya sang suami hingga napas terakhir.

Baca Juga: Bahasa Gen Z: Penuh Inovasi, Keberagaman, dan Kesadaran Sosial yang Tinggi

Dinyatakan hilang selama 26 tahun, puisi dan kata-kata Wiji Thukul terus abadi mewarnai sejarah Indonesia sejak tonggak Reformasi 1998.

Puisi dan kata-katanya, bahkan wajah sang penyair, terus melekat dalam dinding-dinding sejarah republik yang kusam dan dingin.

Potongan-potongan karyanya tersebar dalam kutipan kalimat, musikalisasi, hingga visualisasi.

Baca Juga: Warisan Sasahidan Syekh Siti Jenar: Manunggaling Kawulo Gusti, Perangkap Pseudo-Sufisme atau Kritik pada Watak Feodalisme?

Semuanya menjelma dalam simbol rupa dan selera, tergantung pada siapa yang menafsirkan dan untuk kepentingan apa, yang bisa jadi demi pencitraan di media sosial.

Namun hari ini, 61 tahun Wiji Thukul yang lahir di Surakarta, Jawa Tengah, puisi-puisi lantangnya terus memburu kita ibarat kutukan.

Persis seperti yang dia tulis dalam karyanya berjudul Sajak Suara.

Baca Juga: Sketsa Nusantara: Melestarikan Pluralisme dan Keragaman dalam Bingkai Kebangsaan

Wiji Thukul, dengan ciri khasnya yang tak pernah bertele-tele dalam menyampaikan kata, langsung menggedor kesadaran kita tentang hak paling hakiki manusia, yakni menyampaikan pendapat alias (ber)suara.

Sesungguhnya suara itu tidak bisa diredam
Mulut bisa dibungkam
Namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku

Wiji Thukul, mengingatkan kita bahwa itu bukanlah tindakan kriminal, yang ia deklarasikan secara tegas dengan kalimat "Sesungguhnya suara itu bukan perampok yang merayakan hartamu."

Baca Juga: Video Lama Kaesang-Erina Gudono Naik Jet Pribadi Ramai, Netizen Soroti Belanjaannya: Enak Buka Jastip, Gaperlu Cek Bea Cukai

Suara atau bebunyian, atau apapun yang ada dalam kepala manusia, menjelma menjadi kata dan mengajari tentang cara untuk bertanya.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X