sketsa

Sastra Islam: Antara Kebajikan Kata dan Progresifitas

Sabtu, 25 Juli 2026 | 23:20 WIB
Syarif Hidayat Santoso (SketsaNusantara.id)

Oleh: Syarif Hidayat Santoso

Rawatlah kelamin baik-baik

Sepanjang hari-hari sepedas bubuk merica

Memupur punggung dan mata

Di antara botol minuman dan cahaya neon

Abaikan messiah yang tak sudi mampir

Seperti pejantan payah membanting pintu bilik

Dengan ocehan congkak

Setelah semalaman merengek bokong

Hingga biji pelirnya gosong

      Tak ada messiah sudi ke bordil               

(Binhad Nurrahmat: Tak ada Mesiah Sudi ke Bordil dalam Kuda ranjang:2004)

SketsaNusantara.id - Jika anda membaca bait puisi di atas, apa yang anda rasakan? Jijik, marah, benci ataukah biasa saja. Atau jika anda santri akankah anda  menghukumi bait di atas sebagai syair tak termaafkan ditinjau dari religiusitas kesantrian anda.             

Bagi sebagian kalangan, persoalan religiusitas adalah urgensi primer bagi setiap karya yang terlahir dari ekologi bernuansa agama. Setiap karya dimatriks sesuai dengan pakem yang terbakukan dalam nilai-nilai religiusitas (dalam hal ini adalah Islam).

Halaman:

Tags

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB