Oleh: Mukani*
SketsaNusantara.id - Peringatan hari pendidikan nasional (Hardiknas) setiap tanggal 2 Mei ini menjadi momentum tepat melakukan refleksi terkait dunia pendidikan Indonesia. Terlebih dalam menggalakkan budaya literasi, sebagai akses terpenting untuk membangun peradaban bangsa. Budaya minat dan daya baca di Indonesia masih terus digenjot agar tradisi literasi makin meningkat.
Melek Huruf
Peradaban bangsa di muka bumi ini tidak ada yang dibangun dengan meninggalkan fondasi literasi. Dia bukan sekedar membaca dan menulis. Namun diinterpretasikan sebagai sebuah sistem tanda yang mengandung seperangkat nilai dan makna yang bekerja atas dasar sebuah kesadaran tentang eksistensi bersama. Literasi selalui dilandasi oleh kesadaran akal budi, pandangan dunia (weltanshauung) dan suasana jiwa pelakunya.
Dialektika konsep kedirian (the self) dan apapun di sekeliling (the other) menjadi dua keping mata uang yang saling tergantung. Budaya literasi akan mampu merekam inskripsi dalam sejarah peradaban manusia dengan memberi makna sebagai tradisi kemelek-hurufan (literacy) bekerja. Inilah yang oleh Masdar Hilmy (2018) akan membentuk sebuah komponen yang saling melengkapi dan menyempurnakan sebuah peradaban.
Kondisi di Indonesia, profil kedirian yang ideal juga mempresentasikan dialektika yang penuh pergumulan dan kontestasi. Melalui sebuah mekanisme budaya yang disebut sebagai literasi, dengan bekerja secara tandem, muncul gerakan literasi nasional (GLN). Ini diproyeksikan sebagai upaya mendorong masyarakat Indonesia melek aksara dalam makna yang luas.
Hal ini dikarenakan keunggulan Indonesia masih berkutat dari faktor keberadaan perpustakaan atau infrastruktur literasi, yaitu posisi Indonesia berada di urutan ke-36. Indonesia, dalam pembangunan fisik, mengungguli Korea Selatan di urutan ke-42, Malaysia (44), Jerman (47), Belanda (53) dan Singapura (59). Ini berarti Indonesia rajin membangun proyek perpustakaan, tetapi tidak difungsikan dengan optimal.
Padahal survei Badan Pusat Statistik (BPS) RI tahun 2020 menunjukkan
hanya sekitar 10% penduduk Indonesia yang rajin membaca buku. Angka ini menunjukkan tingkat minat literasi yang masih rendah di kalangan masyarakat. Perlu berbagai upaya ekstra yang dilakukan semua pihak agar tradisi literasi di Indonesia terus meningkat.
Penelitian CEOWorld tahun 2024 juga menunjukkan hasil tidak jauh berbeda. Lembaga ini mensurvei negara-negara yang paling rajin membaca buku dalam satu tahun. Ranking tertinggi diduduki oleh Amerika Serikat dengan 357 jam setiap tahun digunakan membaca buku. Sedangkan Indonesia “bertengger” di ranking 31 hanya dengan 129 jam.
Riset dari United Nations Education, Scientific and Cultural Organization (2024) memposisikan Indonesia berada di peringkat kedua dari bawah soal literasi dunia. Minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1.000 orang Indonesia, cuma satu orang yang rajin membaca.