Peresensi: Ifdlolul Maghfur*
SketsaNusantara.id - Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Proses yang berlangsung tidak semestinya dimaknai hanya sekedar berlangsung di ruang kelas. Pendidikan dalam arti luas adalah proses untuk menjadikan manusia menjadi lebih baik.
Bagi sebuah bangsa yang sedang membangun peradaban, pendidikan adalah investasi jangka panjang untuk menata kehidupan yang lebih baik di masa depan. Negara tentu akan banyak mengalokasikan banyak anggaran yang dimiliki bagi kemajuan pendidikan. Khusus di Indonesia, berdasarkan amanat Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, sebanyak 20% dari APBN dialokasikan bagi bidang pendidikan.
Refleksi Mendalam
Buku Membaca Pendidikan Indonesia karya Mukani yang diterbitkan ulang pada Agustus 2025 ini merupakan modal berharga dalam membaca kondisi riil pendidikan di Indonesia secara cerdas. Pembahasan yang disajikan dalam buku ini merupakan refleksi mendalam secara kritis yang dilakukan penulis dalam dua dekade terakhir. Berbagai pergeseran, baik yang dilakukan secara perlahan maupun cepat, sudah nampak di permukaan pasca tumbangnya rezim Orde Baru.
Meski buku ini berasal dari kumpulan tulisan (opini) penulis di berbagai koran dan majalah berskala nasional maupun lokal, paradigma kepenulisan yang disajikan cukup relevan dibahas pada waktu sekarang. Ini karena angle yang digunakan mampu menjadikan pembaca kritis dalam meneropong realita pendidikan di Indonesia. Meski data-data yang digunakan perlu “disesuaikan” lagi karena yang ditampilkan untuk kepentingan kala opini ditulis.
Pendidikan di Indonesia, menurut Masdar Hilmy (2021), sudah selayaknya hadir sebagai solusi atas segudang persoalan yang dihadapi bangsa, seperti korupsi, ancaman disintegrasi, kurikulum, intoleransi, maraknya ujaran kebencian serta sampah plastik dan semacamnya. Memang tidak semua persoalan bangsa mesti diakomodasi ke dalam struktur kurikuler pendidikan. Tapi pendidikan harus mampu memayungi berbagai persoalan makro-generik agar elan vital akademik tidak pupus.
Selain keterjarakan, terdapat anomali akut antara apa yang diajarkan di dunia pendidikan dengan pengalaman sehari-hari. Pendidikan di Indonesia masih dipandang kurang down to earth, kurang membumi. Di satu sisi sekolah mengajarkan moralitas adiluhung, di sisi lain yang dipraktikan di masyarakat adalah perilaku sebaliknya. Masih terjadi keterbelahan epistemologis dalam dunia pendidikan kita: antara aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
Pada konteks ini, penulis buku mengkaji secara kritis berbagai kebijakan yang diambil pemerintah di bidang kurikulum. Proses pembacaan ini merupakan refleksi mendalam dari penulis yang, secara subjektif, sudah lama bergelut di dalam dunia pendidikan, terutama sejak tahun 2004 menjadi seorang pendidik, baik sebagai guru maupun dosen.
Aspek Nasionalisme
Sorotan mendalam yang dibahas dalam buku ini, bahkan dikaji dalam tiga bab, adalah perspektif nasionalisme di dunia pendidikan Indonesia. Pendidikan, menurut penulis, tidak sekedar menjadikan murid pintar. Tapi ada nilai-nilai yang harus tetap diwarisi dari generasi sebelumnya (transfer of values) dalam menjaga kerangka peradaban bangsa.
Artikel Terkait
Mengenal Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara: Gagal Menjadi Dokter, Malah Jadi Pahlawan Nasional
5 Kritik Keras Jusuf Kalla untuk Mendikbud Nadiem Makarim, Singgung Soal Kinerja hingga Sistem Pendidikan Indonesia yang Dinilai Makin Kacau
Anies Baswedan Bicara 'Terang Benderang' di UGM, Sentil Pemerintah Soal Efisiensi Anggaran yang Berdampak pada Pendidikan Indonesia