Minggu, 19 Juli 2026

Membaca (Cerdas) Pendidikan Indonesia

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Rabu, 6 Agustus 2025 | 22:45 WIB
Ifdlolul Maghfur, peresenai buku Membaca Pendidikan Indonesia karya Mukani.  (SketsaNusantara.id)
Ifdlolul Maghfur, peresenai buku Membaca Pendidikan Indonesia karya Mukani. (SketsaNusantara.id)

Peresensi: Ifdlolul Maghfur*

SketsaNusantara.id - Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Proses yang berlangsung tidak semestinya dimaknai hanya sekedar berlangsung di ruang kelas. Pendidikan dalam arti luas adalah proses untuk menjadikan manusia menjadi lebih baik.

Bagi sebuah bangsa yang sedang membangun peradaban, pendidikan adalah investasi jangka panjang untuk menata kehidupan yang lebih baik di masa depan. Negara tentu akan banyak mengalokasikan banyak anggaran yang dimiliki bagi kemajuan pendidikan. Khusus di Indonesia, berdasarkan amanat Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, sebanyak 20% dari APBN dialokasikan bagi bidang pendidikan.

Refleksi Mendalam

Buku Membaca Pendidikan Indonesia karya Mukani yang diterbitkan ulang pada Agustus 2025 ini merupakan modal berharga dalam membaca kondisi riil pendidikan di Indonesia secara cerdas. Pembahasan yang disajikan dalam buku ini merupakan refleksi mendalam secara kritis yang dilakukan penulis dalam dua dekade terakhir. Berbagai pergeseran, baik yang dilakukan secara perlahan maupun cepat, sudah nampak di permukaan pasca tumbangnya rezim Orde Baru.

Baca Juga: Dharma Pongrekun Cocokologi Hubungkan Angka 6 dengan Dajjal Saat Bahas Sistem Pendidikan di Indonesia, Bikin Deddy Corbuzier Pusing

Meski buku ini berasal dari kumpulan tulisan (opini) penulis di berbagai koran dan majalah berskala nasional maupun lokal, paradigma kepenulisan yang disajikan cukup relevan dibahas pada waktu sekarang. Ini karena angle yang digunakan mampu menjadikan pembaca kritis dalam meneropong realita pendidikan di Indonesia. Meski data-data yang digunakan perlu “disesuaikan” lagi karena yang ditampilkan untuk kepentingan kala opini ditulis.

Pendidikan di Indonesia, menurut Masdar Hilmy (2021), sudah selayaknya hadir sebagai solusi atas segudang persoalan yang dihadapi bangsa, seperti korupsi, ancaman disintegrasi, kurikulum, intoleransi, maraknya ujaran kebencian serta sampah plastik dan semacamnya. Memang tidak semua persoalan bangsa mesti diakomodasi ke dalam struktur kurikuler pendidikan. Tapi pendidikan harus mampu memayungi berbagai persoalan makro-generik agar elan vital akademik tidak pupus.

Baca Juga: Dimulai Hari yang Sama, Inilah 7 Perbedaan Sekolah Rakyat dengan Sekolah Umum: Mulai dari Fasilitas hingga Kurikulum Pembelajaran Berbeda?

Selain keterjarakan, terdapat anomali akut antara apa yang diajarkan di dunia pendidikan dengan pengalaman sehari-hari. Pendidikan di Indonesia masih dipandang kurang down to earth, kurang membumi. Di satu sisi sekolah mengajarkan moralitas adiluhung, di sisi lain yang dipraktikan di masyarakat adalah perilaku sebaliknya. Masih terjadi keterbelahan epistemologis dalam dunia pendidikan kita: antara aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.

Pada konteks ini, penulis buku mengkaji secara kritis berbagai kebijakan yang diambil pemerintah di bidang kurikulum. Proses pembacaan ini merupakan refleksi mendalam dari penulis yang, secara subjektif, sudah lama bergelut di dalam dunia pendidikan, terutama sejak tahun 2004 menjadi seorang pendidik, baik sebagai guru maupun dosen.

Aspek Nasionalisme

Sorotan mendalam yang dibahas dalam buku ini, bahkan dikaji dalam tiga bab, adalah perspektif nasionalisme di dunia pendidikan Indonesia. Pendidikan, menurut penulis, tidak sekedar menjadikan murid pintar. Tapi ada nilai-nilai yang harus tetap diwarisi dari generasi sebelumnya (transfer of values) dalam menjaga kerangka peradaban bangsa.

Baca Juga: Fakta Menarik Ki Hajar Dewantara Memperingati Hardiknas 2025, Bapak Pendidikan Indonesia Pernah Jadi Santri hingga Diasingkan ke Belanda

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X