Terlebih era sekarang dengan kemajuan teknologi yang telah menghadirkan sisi positif dan negatif. Menurut Ngainun Naim (2022), realitas ini harus dipahami dan disadari bersama. Pemahaman dan kesadaran ini menjadi titik pijak untuk menentukan langkah selanjutnya. Bagi orang yang berpikiran konstruktif, langkah yang bisa dilakukan antara lain adalah memanfaatkan teknologi secara maksimal dan mencari solusi atas ekses yang ikut serta.
Salah satu hal fundamental yang mengalami perubahan dari kecanggihan teknologi adalah sisi nasionalisme. Nasionalisme secara sederhana bisa dimaknai sebagai cinta tanah air. Namun seiring arus globalisasi dan derasnya informasi, nasionalisme juga mengalami perubahan. Batas-batas antar negara secara sosial, politik, ekonomi dan budaya menjadi kabur. Implikasinya, muncul ketidakpedulian generasi muda terhadap nasionalisme.
Realitas semacam ini tentu menimbulkan kegelisahan secara luas. Sulit dibayangkan masa depan bangsa ini jika rasa memiliki terhadap bangsa tidak tumbuh di kalangan generasi muda. Padahal kelompok muda inilah yang nantinya akan menjadi pemimpin.
Satu strategi yang bisa ditempuh untuk menanamkan nasionalisme adalah melalui pendidikan. Mungkin terdengar normatif-dogmatis. Banyak juga kritik ditujukan pada strategi pembelajaran di kelas yang tidak sesuai dengan harapan. Cenderung membosankan, monoton dan kurang inovatif. Memang diperlukan langkah-langkah kreatif-konstruktif agar apa yang menjadi tujuan bisa tercapai melalui pendidikan.
Baca Juga: Ngopai, Cara Guru PAl Jenjang SD di Nganjuk Tingkatkan Kemampuan Pembelajaran
Salah satu yang bisa dilakukan adalah menghadirkan spirit para tokoh bangsa dalam memberikan kontribusi positifnya. Buku Membaca Pendidikan Indonesia ini menyajikan banyak sosok tokoh bangsa yang bisa dijadikan teladan bagi generasi milenial, mulai KH Hasyim Asy’ari, Bung Karno, K Wahid Hasyim, Gus Dur, SBY, KH Ma’shum Ali dan sebagainya. Ini penting dilakukan karena, menurut Hardiman (2021), era digital seperti sekarang ini lebih didominasi oleh sensasi dibandingkan kontemplasi.
Melalui penerbitan (kembali) buku ini, penulis tentu tidak berpretensi untuk “menuntaskan” segala persoalan yang muncul di dunia pendidikan Indonesia. Kualitas pendidikan di Indonesia bukan proses yang instan, tetapi proses panjang, berliku dan penuh tantangan. Pembenahan terhadap kualitas pendidikan di negeri ini memerlukan upaya integratif-menyeluruh di semua aspek pendidikan.
Buku Membaca Pendidikan Indonesia ini merupakan ikhtiar dari penulisnya dalam mengidentifikasi isu-isu kontemporer di seputar dunia pendidikan Indonesia. Dengan cara demikian, penulis telah menstimulasi para pembaca untuk tetap memberikan perhatian kepada dunia pendidikan agar kehadirannya tetap relevan dengan kebutuhan rakyat Indonesia. Setidaknya buku ini dapat mengundang wacana baru dan mampu menstimulasi berkembangnya pemikiran pendidikan serta memberikan secercah harapan bagi perbaikan kualitas pendidikan di Indonesia.***
*Peresensi adalah Dosen Universitas Yudharta Pasuruan dan Pengurus LTN PWNU Jawa Timur
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini
Artikel Terkait
Mengenal Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara: Gagal Menjadi Dokter, Malah Jadi Pahlawan Nasional
5 Kritik Keras Jusuf Kalla untuk Mendikbud Nadiem Makarim, Singgung Soal Kinerja hingga Sistem Pendidikan Indonesia yang Dinilai Makin Kacau
Anies Baswedan Bicara 'Terang Benderang' di UGM, Sentil Pemerintah Soal Efisiensi Anggaran yang Berdampak pada Pendidikan Indonesia