Oleh: Moh. Ja’far Sodiq Maksum*
Hardiknas dalam Lanskap Baru
SketsaNusantara.id - Dulu, Ki Hajar Dewantara menempatkan pendidikan sebagai “tuntunan di tengah kehidupan anak”, sebuah proses sosial yang sarat nilai, relasi, dan keteladanan. Namun hari ini, tuntunan itu tidak lagi sepenuhnya lahir dari ruang kelas atau keluarga. Ia hadir dalam bentuk notifikasi, video pendek di TikTok, hingga jawaban instan dari ChatGPT.
Jika ditelaah dengan perspektif budaya organisasi, fenomena ini bukan sekadar perubahan teknologi, melainkan pergeseran sistem nilai. Pendidikan sebagai “organisasi sosial” kini sedang mengalami infiltrasi budaya baru, budaya algoritmik. Dalam buku Budaya Organisasi, dijelaskan bahwa organisasi bukan sekadar struktur formal, melainkan sistem nilai, norma, dan makna yang membentuk cara berpikir dan bertindak anggotanya.
Artinya, ketika siswa lebih percaya algoritma daripada guru, sesungguhnya telah terjadi perubahan budaya: dari learning culture menjadi instant culture. Di sinilah problem utama pendidikan hari ini, bukan pada AI-nya, tetapi pada budaya yang mengiringinya.
Baca Juga: Kasus Joki UTBK Terbongkar di Unesa, Teknologi AI Deteksi Kemiripan Wajah hingga 95 Persen
AI sebagai Agen Budaya
Teknologi bukanlah entitas yang netral, melainkan bagian dari sistem nilai yang hidup dan memengaruhi perilaku kolektif. Budaya organisasi berperan sebagai pedoman tidak tertulis dalam bertindak, dalam buku Budaya Organisasi disebutkan bahwa “budaya organisasi merupakan sistem nilai, keyakinan, asumsi dasar dan norma perilaku yang berkembang serta dipraktikkan bersama oleh anggota organisasi”.
Kehadiran AI tidak hanya memperluas akses pengetahuan, tetapi juga membentuk kebiasaan baru dalam belajar. Demokratisasi ilmu melalui AI mencerminkan tumbuhnya budaya adaptif, budaya yang terbuka terhadap perubahan dan pembelajaran berkelanjutan.
Siswa di daerah kini memiliki peluang yang relatif setara dengan mereka di pusat kota, sementara teknologi berfungsi sebagai enabler yang memperkuat inklusivitas pendidikan. Lebih jauh, AI juga mendorong efisiensi dan produktivitas yang menandai pergeseran menuju performance culture. Di mana hasil, kecepatan, dan efektivitas menjadi ukuran utama. Guru terbantu dalam tugas administratif dan siswa memperoleh dukungan teknis yang memungkinkan eksplorasi pengetahuan lebih luas.
Budaya organisasi tidak hanya membentuk tindakan, tetapi juga cara berpikir. Maksum MJS dalam Budaya Organisasi juga menegaskan “budaya berfungsi sebagai kerangka acuan yang membimbing anggota dalam bertindak ketika menghadapi situasi yang ambigu”. Ketika AI mulai mengambil alih fungsi tersebut, memberi jawaban instan atas hampir setiap pertanyaan, maka terjadi potensi pergeseran dari budaya berpikir menjadi budaya ketergantungan.
AI memang membuka ruang inklusivitas, termasuk bagi anak berkebutuhan khusus, tetapi sekaligus berisiko menanamkan norma baru: belajar tanpa proses refleksi.