Berita terbaru yang dimuat oleh salah satu media online ternama di Indonesia menyebutkan, seorang guru wali kelas V di salah satu SD negeri di Jember menelanjangi siswa demi mencari uangnya yang hilang. Guru tersebut menggeledah 22 tas siswanya. Karena tidak kunjung ditemukan, dia menelanjangi siswanya. Siswa laki-laki diminta menanggalkan seluruh pakaian hingga tanpa busana. Sementara siswa perempuan diperintahkan membuka pakaian dan hanya menyisakan pakaian dalam. Kasus ini bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi pelanggaran atas nilai-nilai kemanusiaan.
Persoalan lain pada isu kekerasan terhadap perempuan yang juga menjadi perhatian adalah pembiayaan visum korban kekerasan yang tidak lagi sepenuhnya ditanggung negara. Hak korban untuk memperoleh pembuktian medis berpotensi berubah menjadi beban baru. Dalam situasi seperti inilah keberpihakan harus tegas.
PC Kopri Jember sebetulnya telah memiliki Pos Aduan. Namun, kami menyadari bahwa niat baik tidak cukup jika tanpa diiringi kapasitas pengetahuan yang baik. Penanganan kasus tidak bisa dilakukan hanya dengan keberanian, tetapi harus ditopang oleh pengetahuan dan kompetensi.
Ke depan, Pos Aduan Kopri akan tetap berjalan dengan evaluasi sistemik dan penguatan kapasitas pengurus PC Kopri Jember. Kami tidak ingin petantang-petenteng mengawal kasus tanpa bekal. Fokus kami adalah memastikan setiap orang di Posko Aduan memiliki pengetahuan dasar hingga lanjutan mengenai pendampingan dan penanganan kekerasan seksual.
Pos Aduan juga akan diarahkan untuk membangun basis data dan melakukan survei internal di Rayon (pengurus tingkat fakultas) dan Komisariat (pengurus tingkat kampus) dengan satu pertanyaan mendasar: “Sudah amankah kita dalam ber-PMII?” Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk advokasi nyata yang diwujudkan di internal organisasi. Karena organisasi yang besar belum tentu aman, tetapi organisasi yang aman pasti membesarkan setiap anggotanya.
Akhir kata, Kopri bukan sekadar badan semi otonom. Kopri adalah ruang belajar nilai, ruang merawat kehidupan, dan ruang membangun keberanian yang bertanggung jawab. Kita tidak bergerak untuk menjadi paling lantang, tetapi paling konsisten antara gagasan dan tindakan.
Cendekiawan dan akitivis lingkungan Vandana Shiva pernah berkata, “Kita akan memiliki masa depan di mana perempuan memimpin upaya untuk berdamai dengan Bumi, atau kita sama sekali tidak akan memiliki masa depan manusia.”
Kiai Faqih Abdul Kodir mengingatkan kita: “Tidak akan ada keadilan tanpa keadilan bagi perempuan dan laki-laki.”
Maka dalam momentum pelantikan ini kita tidak hanya dilantik, tetapi dititipi amanah untuk senantiasa merawat bumi, menghormati tubuh manusia sebagai subjek penuh, dan menegakkan keadilan secara bersama. Mari kita wujudkan bersama, kita akan membawa Kopri Jember menuju gerakan perempuan yang masif serta progresif.***
*Ketua PC Kopri Jember masa khidmat 2025-2026
Tulisan ini merupakan sambutan Ketua Kopri Jember saat Resepsi Pelantikan PC PMII Jember, 12 Februari 2026