Banyak tokoh telah mengkaji pemikiran dan pergerakan Gus Dur semasa masih hidup. Bukan saja karena pemikiran Gus Dur sering menyalahi kebiasaan kiai pada umumnya (khariqatul ‘adat). Namun juga terbukti bahwa berbagai pemikiran Gus Dur mampu menjadi penggerak masyarakat (community organizer), terutama kaum Muslim tradisional yang termanifestasikan dalam komunitas warga nahdiyyin.
Tidak mengherankan jika kemudian Gus Dur lahir sebagai tokoh yang sangat getol dalam membela kepentingan kaum minoritas. Bahkan, menurut Greg Barton (2000), dosen senior di Deakin University, mengkategorikan Gus Dur sebagai sosok intelektual Muslim non-chauvinis, sebagai figur yang memperjuangkan diterimanya realitas sosial bahwa Indonesia itu beragam. Pada titik tertentu, kecintaan Gus Dur yang mendalam terhadap nilai-nilai budaya tradisional dan doktrin Islam ini telah menjadikan Gus Dur sebagai sosok demokrat liberal.
Bagi bangsa Indonesia, penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada Gus Dur merupakan salah satu bentuk ucapan terima kasih atas dedikasi yang telah diberikan. Namun, menurut pandangan penulis, yang jauh lebih penting ke depan sebenarnya adalah upaya dari anak bangsa ini untuk tetap melestarikan nilai-nilai luhur yang sudah dibelajarkan oleh Gus Dur.
Keberanian Gus Dur untuk membela kepentingan rakyat kecil dan kaum minoritas patut dijaga dalam melakukan cheks and balances terhadap sikap pemerintah Orde Baru saat itu yang otoriter. Kesederhanaan Gus Dur sudah saatnya dijadikan new spirit bagi para aparatur pemerintahan dalam melayani rakyat, bukan selalu menuntut hak terlebih dahulu. Netralitas Gus Dur dari ambisi kekuasaan patut ditiru oleh para calon pemimpin negeri ini sebelum terjun ke dunia politik.
Karakter-karakter khas Gus Dur tersebut ke depan sudah seyogyanya mampu diinternalisasikan oleh anak bangsa di negeri ini secara konsisten dalam kehidupan keseharian. Tidak sekedar rutinitas pemberian gelar pahlawan nasional. Sehingga ke depan Indonesia yang punya nama di dunia internasional bukan sebuah mimpi. Semoga segera mewujud.*
*Dosen STIT Urwatul Wutsqo Bulurejo Jombang