R Kretarto adalah bawahan Kolonel Sungkono yang menjabat sebagai Gubernur Militer Divisi I Daerah Jawa Timur. Patung R Kretarto sekarang berdiri gagah di depan PG Djombang Baru. Tepat di selatan pertigaan barat Pasar Legi. Ini dilakukan untuk mengenang perjuangan R Kretarto bersama pasukannya dalam mempertahankan Jombang sebagai garis depan wilayah Indonesia.
Resimen 32 terpaksa bermarkas di bekas rumah AR Jombang setelah Perang Arek-arek Suroboyo 10 Nopember 1945. Belanda makin bernafsu menguasai Indonesia kembali. Bahkan kekuatan militer Indonesia yang mundur ke daerah Mojokerto, juga dibombardir sedemikian rupa. Upaya untuk membangun kekuatan kembali militer Indonesia menjadi gagal dan kocar-kacir.
Dalam serangan mendadak tanggal 17 Maret 1947, pasukan Belanda mampu menguasai Mojokerto. Seluruh kekuatan militer Indonesia mundur ke Jombang yang masuk wilayah Indonesia menurut garis Van Mook. Termasuk pemerintahan sipil Jawa Timur juga mengungsi ke Jombang.
Rumah AR Jombang oleh Resimen 32 tidak hanya dijadikan markas, tapi juga tempat melatih para calon tentara. Sedangkan lokasi rekrutmen berada di gedung tengah kota dengan halaman luas (sekarang PT Telkom timur Kebon Rojo). Kekuatan yang terus bertambah, menjadikan Resimen 32 juga memanfaatkan gedung di depan RSUD Jombang sekarang.
Batalyon 39/Condromowo eks Laskar Hizbullah mengambil markas di rumah dinas utara PG Djombang Baru. Pesindo bermarkas di gedung depan Makodim 0814/Jombang sekarang. Sedangkan pihak kepolisian bermarkas di Dusun Plemahan Desa Banyuarang Kecamatan Ngoro. Hingga sekarang, Dusun Plemahan masih sering ditempati upacara peringatan perjuangan kepolisian, terutama dari kesatuan Brigade Mobil (Brimob).
Berbagai unsur militer yang dimiliki Indonesia ternyata tetap tidak mampu mempertahankan Jombang dari serangan Belanda. Saat pasukan Belanda berhasil menguasai Kota Jombang tanggal 29 Desember 1948 melalui agresi militer, kekuatan tentara Indonesia bergeser mundur ke daerah Kertosono Nganjuk. Ini karena memiliki benteng alam berupa Kali Brantas. Sebagian pasukan Indonesia pimpinan Darmosugondho bertahan di Desa Jombok Ngoro dan sekitarnya, agar akses menuju Pare Kediri mudah dan belum dikuasai pihak Belanda.
Saat menaklukkan Jombang, pasukan Belanda dipimpin langsung oleh Charles Olke van der Plass. Pada tahun 1936-1941, dia menjabat sebagai gubernur Belanda untuk provinsi Jawa Timur. Berdasar dokumen Sejarah Perjuangan Hizbullah di Jawa Timur (1986), mereka merangsek ke selatan untuk menangkap Pengasuh Pesantren Tebuireng saat itu, KH A Abdul Wahid Hasyim. Ayah Gus Dur ini kemudian ditangkap dan dibawa ke Jagalan, markas tentara Belanda di Jombang.
Namun upaya penangkapan itu tidak mudah karena mendapat perlawanan dari Kompi VI Batalyon 39/Condromowo yang bermarkas di Dusun Nglaban Desa Bendet, tenggara Tebuireng. Menurut Moch Faisol dalam buku Jejak Laskar Hizbullah Jombang (2018), komandan kompinya adalah KH M Yusuf Hasyim (Pak Ud), adik kandung KH A Wahid Hasyim. Meski tidak berimbang kekuatan dan persenjataan, kompi ini sempat membuat pasukan Belanda kerepotan. Bahkan dada Pak Ud sempat terserempet peluru senapan pasukan Belanda.
Bangunan AR Jombang sendiri, bersama bangunan penjara, dibumihanguskan sebelum Jombang jatuh ke Belanda. Ini terpaksa dilakukan tentara Indonesia agar bangunan-bangunan itu tidak bisa lagi digunakan Belanda dalam menjalankan roda pemerintahannya di Jombang.
Di atas puing-puing bangunan AR Jombang itulah di kemudian hari gedung SMAN 1 Jombang didirikan. Tepatnya pada tahun 1980.***
*Alumni Program Pascasarjana IAIN/UIN Sunan Ampel Surabaya (2005), tinggal di Jombang.
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!