sketsa

Apem dan Megengan, Tradisi Islami Jelang Ramadhan

Kamis, 27 Februari 2025 | 12:58 WIB
Mukani. (Dok. SketsaNusantara.id)

Mukani*

SketsaNusantara.id - Umat Islam akan mempersiapkan pernak-pernik sebelum bulan suci Ramadhan tiba. Tidak terkecuali masyarakat muslim Jawa yang mendoakan arwah para leluhurnya melalui tradisi megengan.

Istilah megengan, menurut WJS Poerwadarminta dalam Bausastra Jawa (1939), dimaknai sebagai wiwitaning sasi Pasa, dimulainya bulan puasa Ramadhan.

Secara etimologi, megengan berarti menahan (Jawa: ngempet). Artinya, beberapa hari lagi akan datang bulan Ramadhan yang umat Islam di Jawa diwajibkan berpuasa, menahan diri dari segala hal yang membatalkannya.

Baca Juga: Warisan Sunan Kalijaga: Asal-usul Apem Jadi Simbol Megengan Menjelang Bulan Puasa Ramadhan

Tradisi megengan dimulai sore hari dengan membersihkan makam orang tua dan keluarga. Dilanjutkan dengan berdoa dan menaburkan bunga di atasnya. Ini sebagaimana dilakukan Nabi Muhammad Saw, yang dijelaskan Imam Ibnu Hajar al-‘Asqolani dalam kitab Bulughul Maram.

Setelah Maghrib, dilanjutkan dengan mendoakan arwah keluarga yang sudah meninggal dunia. Baik dengan mengundang para tetangga untuk hadir ke rumah. Atau dengan bersama-sama di mushala atau masjid.

Keduanya tentu dengan membawa ambengan dan apem. Ini adalah makanan sehat dan bergizi yang diberikan kepada para tamu. Dengan niatan agar pahala berbagi itu ditujukan kepada arwah yang didoakan.

Baca Juga: Dakwah Tanpa Pesantren, Ada 7 Warisan Peninggalan Sunan Kalijaga yang Abadi di Tanah Jawa

Sejarah Apem

Sunan Kalijaga, dalam suatu waktu, menjelang bulan Ramadhan, konon mengundang beberapa tetangga. Mereka diundang untuk datang ke rumah setelah shalat Maghrib. Tujuannya untuk mendoakan arwah para leluhur Sunan yang telah meninggal dunia.

Para tetangga pun berdatangan. Seperti biasa, mereka dipersilakan duduk di atas tikar di dalam rumah Sunan. Berbagai doa pun dibacakan berdasarkan ajaran Islam tentunya.

Setelah acara kirim doa selesai, seperti adat Jawa umumnya, dilanjut dengan ramah tamah. Istilah itu untuk menggambarkan agenda makan bersama. Tradisi masyarakat Jawa sejak turun temurun yang sering disebut dengan slametan.

Baca Juga: Jarang Diketahui, Kisah Putra Sunan Kalijaga Jadi Murid Syekh Siti Jenar dan Membawa 2 Anjing ke Masjid lalu Dihukum Bakar Hidup-Hidup di Demak

Halaman:

Tags

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB