Minggu, 19 Juli 2026

Warisan Sunan Kalijaga: Asal-usul Apem Jadi Simbol Megengan Menjelang Bulan Puasa Ramadhan

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Minggu, 9 Februari 2025 | 08:00 WIB
Tradisi megengan dengan kue apem khas jelang Ramadhan, warisan dari Sunan Kalijaga. (Tangkap layar Youtube Wolu Pitu Channel)
Tradisi megengan dengan kue apem khas jelang Ramadhan, warisan dari Sunan Kalijaga. (Tangkap layar Youtube Wolu Pitu Channel)

SketsaNusantara.id - Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, masyarakat Jawa memiliki tradisi khas bernama Megengan.

Tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur dan kegembiraan menyambut ibadah puasa. Salah satu ciri khas Megengan adalah pembagian kue apem kepada tetangga atau kerabat.

Megengan bukan sekadar ritual turun-temurun, tetapi memiliki makna mendalam dalam ajaran Islam.

Baca Juga: Bak Serial Avatar, Inilah 4 Elemen Semesta dalam Wayang Kulit Warisan Sunan Kalijaga

Sejarah mencatat, istilah Megengan pertama kali dikenalkan oleh Sunan Kalijaga saat menyebarkan Islam di tanah Jawa.

Tradisi ini juga menjadi sarana dakwah yang mengakar kuat dalam budaya masyarakat hingga saat ini.

Sunan Kalijaga melihat bahwa masyarakat Jawa zaman dahulu memiliki kebiasaan membuat sesajen untuk arwah leluhur.

Baca Juga: Apa Makna Urip Iku Urup? Ajaran Mendalam dan Penuh Filosofi dari Sunan Kalijaga

Mereka meyakini bahwa makanan yang diletakkan di tempat-tempat keramat akan ‘dikonsumsi’ oleh roh-roh orang yang telah meninggal.

Namun, Sunan Kalijaga tidak serta-merta melarang praktik tersebut, melainkan mengubahnya secara bertahap agar sesuai dengan ajaran Islam.

Menurut penjelasan Ustadz H.Chairil Anam, alih-alih membawa makanan ke tempat keramat, masyarakat diajak Sunan Kalijaga untuk membagikan makanan kepada sesama sebagai bentuk sedekah.

Baca Juga: 5 Hasil Kesenian Sunan Kalijaga untuk Syiar Dakwah Islam di Pulau Jawa, Nomor 4 Penuh Makna Filosofis yang Sering Dilupakan

"Jadi tradisi itu tetap dipertahankan, bikin makanannya tetep, tetapi tidak lalu dibawa ke kuburan, tetapi dimakan bersama-sama, diniati sebagai sodaqoh. Kemudian ke kuburannya tetep, tetapi yang dilakukan di kuburan itu dengan membaca-baca kalimat tayibah, kemudian membaca Al Quran, yang semua itu ditujukan untuk mendoakan orang yang dikubur," ujar Ustadz H. Chairil Anam, dikutip SketsaNusantara.id dari video kanal Youtube Jombang Channel Official yang diunggah 20 April 2020.

Nama "Megengan" sendiri berasal dari kata "megeng", yang dalam bahasa Jawa berarti ‘menahan’ atau ‘mencegah’.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: Youtube Jombang Channel Official

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X